Jumat, 30 Oktober 2009

SYI'AH ITSNA ASYARIYAH

Analisis Kritis Tentang Konsep Imamah

1. Pendahuluan
Sejak masa awalnya, ajaran Syi'ah yang kental dan mendasar adalah masalah kepemimpinan (Imamah) Ajaran inilah yang mempersatukan kaum Syi'ah dan membedakannya dengan aliran politik Islam lainnya Kendati demikian, dalam perkembangan selanjutnya, ajaran ini pulalah yang menjadikan Syi'ah terpecah-pecah menjadi sejumlah aliran atau golongan di samping ajaran dasar lainnya Setelah Ali wafat, orang-orang Syi'ah tidak mempunyai sikap yang sama dalam menempatkan posisi keturunan Ali sebagai Imam Di antara banyaknya aliran-aliran Syi'ah yang muncul ada beberapa aliran besar yang akan di paparkan di sini, dalam upaya mengenal konsep Imamah serta ajaran-ajaran Syi'ah lainnya
Makalah ini akan memaparkan konsep tentang Imamah dalam bidang politik Syi'ah, imamah sebagai landasan dalam Wilâyat al-Faqîh, konsep tentang Ishmah, al-Mahdi (al-Raj'ah) dan tentang Taqiyyah Syi'ah yang dibicarakan disini adalah Syi'ah Itsna Asyariyah yang nota bene kelompok mayoritas yang meyakini bahwa setelah Rasulullah wafat, umat Islam hanya dipimpin oleh 12 Imam

2. Latar Belakang Munculnya Syi'ah Imamiyah Itsna Asyariyah
Pada umumnya aliran-aliran Syi'ah yang ada sekarang di dunia Islam seperti Iran, Irak, Pakistan, dan negara-negara lain, adalah golongan yang membawa nama Syi'ah Imamiyah
Syi'ah Itsna Asyariyah juga dikenal sebagai Syi'ah Imamiyah, yang mengakui eksistensi 12 orang Imam yang berhak memimpin seluruh masyarakat muslim Ke-12 Imam tersebut dimulai dari Ali bin Abi Thalib (w 40H) sebagai penerima wasiat dari Nabi SAW melalui nash Para penerima wasiat (al-Awsiyah) setelah Ali adalah keturunan Fatimah yaitu Hasan bin Ali (w 50 H), Husein bin Ali (w 61 H), kemudian berturut-turut Ali Zainal Abidin bin al-Husain (w 95 H), Muhammad al-Baqir bin Ali (w 114 H), Ja'far al-Shadiq bin Muhammad (w 148 H), Musa al-Kazhim bin Ja'far (w 183 H), Ali ar-Ridha bin Musa (w 203 H), Muhammad al-Jawwar bin Ali (w 220 H), Ali al-Hadi bin Muhammad (w 254 H), Al-Hasan al-Askari bin Ali (w 260 H), dan anaknya Muhammad al-Mahdi bin al-Hasan sebagai Imam yang ke-12 Imam yang terakhir ini lahir pada tahun 256 hijrah, diyakini mengalami masa kegaiban kecil pada 256 hijrah, dan disusul dengan kegaiban besar pada tahun 329 hijrah (bersembunyi pada tahun 256 H) Selama masa kegaiban kecil, 4 orang wakil khusus secara berturut-turut menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kaum Syi'ah dan menyelesaikan seluruh permasalahan mereka Setelah itu sang Imam mengalami kegaiban besar, hingga suatu waktu atas perintah Tuhan ia akan muncul kembali untuk memimpin dunia ini dengan keadilan
Menurut Syalabi, Syi'ah Imamiyah terbentuk sesudah pertengahan abad ke-3 hijrah, yakni setelah lahirnya Imam-Imam yang berjumlah 12 itu Perkembangannya yang terpenting setidaknya terjadi pada dua masa Pertama, adalah ketika kekhalifahan Abbasiyah berada di bawah kendali Dinasti Buwaihi Masa ini bermula dari tahun 932-1062 M dan aliran ini dianut oleh para penguasa Buwaihi sebagai paham keagamaan mereka Kedua, ketika Syah Ismail menjadikan aliran ini sebagai paham resmi negara Persia baru yang didirikannya pada tahun 1502 M Ini terus berlangsung sampai sekarang, di mana Imamiyah (Itsna Asyariyah) tetap merupakan mazhab resmi Republik Islam Iran

3. Konsep Imamah Bagi Syi'ah Itsna Asyariyah
Menurut paham Imamiyah (Itsna Asyariyah) imamah merupakan salah satu arkânul iman mereka yang lima yaitu at-Tauhid, al-Adl, an-Nubuwwah, al-Imâmah dan al-Ma'ad Dan dalam salah satu buku pegangan mereka yaitu al-Kâfi, disebutkan bahwa setiap orang yang tidak beriman kepada Imam dua belas maka dia adalah kafir, sekalipun dia adalah keturunan Ali dan Fathimah Menurut mereka lagi, Allah wajib menetapkan imam untuk memimpin hamba-hamba-Nya Begitu pula Rasul, ia wajib menunjuk orang yang akan menggantikannya sebagai Imam Sehingga karena hal itu adalah urusan Allah, maka tidak ada urusan manusia dalam penentuan iradah Tuhan Dan berdasarkan ini mereka menolak keberadaan KhalifAAHAbu bakar, Umar dan Usman Kemudian ucapan para Imam itu setara dengan sabda Nabi Perbedaannya hanya pada keadaan Nabi yang menerima wahyu sedang para Imam tidak Kemudian seluruh umat Islam wajib mematuhi dan membantu Islam dalam melaksanakan Imamah ini, sebab Imam adalah pemimpin yang menjalankan otoritas ilâhiyah dan an-Nubuwwah Kemudian bagi mereka Imam memiliki sifat ma'sum (suci) tidak mungkin salah ataupun berdosa Imam adalah orang yang memiliki pengetahun yang tidak terbatas sebab langsung menerimanya dari Tuhan melalui ilham dengan perantaraan ruh qudus Bagi mereka Imam mereka yang ke-12 yang bersembunyi di Sardab diyakini masih hidup dan tidak akan mati sampai ia memimpin Syi'ah untuk menegakkan keadilan, dialah Al-Mahdi al-Muntazhar yang dinantikan kemunculannya
Dalam aqidah Syi'ah pada umumnya, Imam bukanlah manusia biasa Imam pada hakikatnya dijadikan dari nur yang diciptakan sebelum adanya alam ini Dalam suatu hadis yang dinisbahkan kepada Sayyidina Ali bahwa Nabi bersabda yang artinya:

Saya dan Ali adalah nur dalam diri Adam, lalu kami berpindah kedalam sulbi-sulbi yang suci dan rahim-rahim yang bersih hingga akhirnya kami berada dalam sulbi Abdul Muthalib Kemudian kami berpecah dua: satu bagian berpindah kepada Abdullah dan satu bagian lagi berpindah kepada Abu Thalib (Dari Abdullah turun kepada Nabi dan dari Abu Thalib turun kepada Ali) Inilah yang dimaksud oleh firman Allah dalam QS al-Furqan:54: Dan Dia (Allah) yang telah menjadikan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu berketurunan dan berkeluarga dan adalah Tuhanmu Maha berkuasa


Dengan demikian kedudukan Imam sebagai pengganti Nabi menduduki martabat yang setingkat dengan Nabi Dalam setiap zaman haruslah ada orang yang membimbing umat kejalan yang lurus agar mereka tidak sesat dalam kehidupan dan memperoleh kehidupan didunia dan diakhirat Orang tersebut adalah merupakan pewaris Nabi dalam berdakwah Imam memiliki wilayah umum atas manusia bagi mengatur urusan dan kemaslahatan mereka, menegakkan keadilan serta menghilangkan kezaliman dan persengkataan sesama mereka
Dalam kaitan dengan syari'at, peranan Imam tidak hanya sebagai pelaksana dan penegak ajaran dan hukum agama, bahkan juga sebagai orang yang menyempurnakan syari'at, menafsirkan dan menyampaikan kepada manusia apa yang telah diserahkan kepada mereka
Beberapa ajaran mereka lainnya adalah sebagai berikut:
a. Sifat Tuhan
Allah SWT Esa dalam sifat dan zat-Nya tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya

b. Al-'Adl
Mereka memberi makna keadilan Tuhan dengan pengertian menafikan Tuhan berbuat zalim Dia wajib memberi pahala bagi orang-orang yang taat dan memberi siksa bagi orang-orang yang berbuat dosa Dia tidak membebani hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak disanggupi dan tidak menyiksa mereka melebihi dari siksa yang seharusnya mereka terima Tuhan wajib mewujudkan yang baik dan terbaik bagi hamba-Nya

c. Al-Taqiyyah
Al-Taqiyyah adalah tindakan menyembunyikan keyakinan yang benar demi kewaspadaan, yang dilakukan untuk menjaga agama yang benar dari musuh-musuh dengan menyembunyikannya dalam keadaan-keadaan dimana ada ketakutan akan dibunuh atau ditangkap atau difitnah Demi kepentingan umat, pelaksanaannya dilaksanakan sebagai suatu kewajiban Landasan hukum al-Taqiyyah adalah dalil 'aqli dan naqli Secara aqli adalah dibolehkan menolak bahaya dengan bertaqiyyah dan secara naqli dapat dilihat dalam Alquran surat ali-Imran ayat 28,

"janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka" Imam Ja'far as-Shadiq menyatakan bahwa al-Taqiyyah adalah agamaku dan agama bapak-bapakku. Barang siapa yang tidak bertaqiyyah, maka tidak ada agama baginya

d. Ar-Raj'ah dan al-Mahdiyah
Ar-Raj'ah adalah keyakinan yang meyakini bahwa sebahagian manusia akan mengalami proses reinkarnasi atau hidup kembali kedunia setelah mereka mengalami kematian konsep ini telah ada sebelumnya dalam agama Yahudi tentang kembalinya Uzair dan Harun Dan juga dalam agama Nasrani yang menganut ajaran bahwa Nabi Isa yang dipandang anak Tuhan itu telah disaliboleh orang-orang Yahudi, tapi tidak mati dan dia bagun kembali dari kuburnya setelah tiga hari, lalu naik kelangit dan duduk disebelah kanan Bapaknya di syurga Pada menjelang akhir zaman Dalam kalangan Syi'ah, Mereka adalah orang-orang yang menzalimi dan menganiaya para Imam dan ahlu al-Bait setelah itu baru Allah menghidupkan kembali al-Imam satu persatu dimulai dari Ali bin Abi Thalib, sampai dengan Hasan al-Asykari Namun sebelum kedatangan mereka akan muncul terlebih dahulu Imam al-Mahdi (Muhammad ibnu Hasan al-Askari) sebagai pembuka jalan bagi Raj'ahnya para Imam yang lain Raj'ah mereka kedunia ini adalah sebagai pengganti atas hak syar'inya dalam khalifah dan dalam khilafah yang belum mereka wujudkan dalam kehidupan sebelum raj'ah
Sebagian ulama Syi'ah meyakini bahwa musuh-musuh para Imam itu seperti khalifah Abu Bakar, Umar dan Ustman dan lain-lain dari para penguasa khalifah Amawiyah dan Abbasiyah yang telah merampas hak Sayidina Ali sebagai khalifah Nabi, juga akan dikembalikan Allah keatas bumi ini pada masa para Imam itu berkuasa untuk menerima hukuman yang setimpal dari mereka atas dosa mereka merampas hak-hak para Imam yang sah
Demikianlah paham raj'ah yang dianut dalam kalangan Syi'ah Imamiyah yang nampaknya dibuat sebagai suatu ajaran untuk memenuhi nafsu balas dendam terhadap orang-orang yang dipandang sebagai musuh mereka
Hingga masa yang belum lama lagi, Syi'ah Imamiyah tidak lagi melakukan shalat jum'at karena Imam tidak ada lagi Imam yang terakhir masih gaib Bahkan sebagian ulama mereka mengharamkan shalat jum'at hingga kembalinya Imam dari persembunyiannya Akan tetapi pada akhir-akhir ini hal yang demikian telah berubah berkat adanya fatwa para ulama yang menjelaskan bahwa tidak ada kaitannya Imam yang gaib itu dengan kewajiban shalat jum'at dan berjihad di jalan Allah Dan sekarang shalat jum'at itu telah dilaksanakan lagi seperti dahulu

e. Tafsir al-Qur'an
Dalam menafsirkan ayat-ayat Al-quran para ulama Syi'ah melakukannya dengan apa yang mereka sebut tafsir batini Ada ajaran yang yang bermakna hakiki sebagaimana lafadznya, ada juga yang ditakwilkan sebagai batin agama yang bertujuan untuk keilahiyan Imamah Seperti kata shalat yang bermakna sebagai shalat itu sendiri, namun dalam tafsir batin diartikan sebagai mengikuti Imam (QS 74-43) Selajutnya, hampir semua kalimat wali, wilayah dan isytiqaq lainnya dalam Al Qur'an dikaitkan dengan Imam Ali dan anak keturunannya

4. Imamah Dalam Teori Politik Syi'ah
Dalam Syi'ah Imamiyah, pemerintah adalah milik Imam saja, sebab dia berhak atas kepemimpinan politik dan otoritas keagamaan Mereka, seperti sudah disinggung, meyakini bahwa yang berhak atas otoritas spiritual dan politis dalam komunitas Islam pasca Nabi Muhammad adalah Ali bin Abi Thalib beserta sebelas keturunannya Karenanya, mazhab ini dikenal sebagaimana yang telah dipaparkan diatas dengan Syi'ah dua belas
Imam terakhir, al-Mahdi, mengalami apa yang oleh umat Syi'ah Imamiyah disebut sebagai "Ghaib sempurna" pada tahun 941 M, dan diyakini akan datang kembali Oleh sebab itu menurut keyakinan Syi'ah, Imam al-Mahdi masih hidup dan masih menjadi pemegang kekuasaan yang sah Ia akan mncul kembali pada saat yang akan ditentukan oleh Tuhan Karena Imam Mahdi masih hidup maka lembaga Imamah masih hidup Jadinya perlunya keberadaan seorang pemimpin umat bagi kalangan Syi'ah lebih penting dari pada bagi kalangan Sunni Bahkan pada mazhab Syi'ah prinsip Imamah -sebagaimana telah dijelaskan diatas- adalah termasuk rukun Iman Masalah Imamah inilah yang menjadi salah satu sumber skisma dalam Islam antara sunni dan Syi'ah A Syafruddin al-Musawi mengaku bahwa tiada suatu penyebab perpecahan diantara umat Islam yang lebih hebat dari pada perbedaan pendapat yang berhubungan dengan persoalan Imamah Tiada bentrokan dalam Islam demi suatu prinsip agama yang lebih parah dari pada yang telah terjadi disekitar persoalan ini Soal Imamah menurut al-Musawi adalah penyebab utama yang secara langsung telah menimbulkan perpecahan selama ini Generasi demi generasi yang mempertengkarkan soal Imamah telah menjadi demikian gandrung dan terbiasa dengan sikap fanatik dalam kelompoknya masing-masing tanpa mau mengkaji dengan kepala dingin
Orang-orang Syi'ah seperti yang ditulis oleh Thabataba'i, memang muncul karena kritis dan protes terhadap dua masalah dasar dalam Islam kendati tidak berkeberatan dalam cara-cara keagamaan yang melalui perintah-perintah Nabi merata dikalangan kaum muslimin Dengan kata lain, tidak ada perbedaan secara prinsipil antara sunni dan syi'i Kedua masalah itu adalah berkenaan dengan pemerintahan Islam dan kewenangan dalam pengetahuan-pengetahuan keagamaan yang menurut kalangan Syi'ah menjadi hak istimewa ahli bait
Kaum Syi'ah menyatakan bahwa tidaklah masuk akal ditinjau dari sifat keadilan dan kasih sayang (luthf) Tuhan terjadi pada manusia jika ia membiarkan masalah Imamah tanpa keputusan Berbeda dengan pandangan kaum sunni, kaum Syi'ah menganggap bahwa masalah kepemimpinan umat adalah masalah yang terlalu vital untuk diserahkan begitu saja pada musyawarah manusia-manusia biasa yang bisa saja memilih orang yang salah untuk kedudukan tersebut dan karenanya bertentangan dengan tujuan wahyu ilahi

5. Imamah Sebagai Landasan Wilayat Al-Faqih
Perkembangan pemikiran Syi'ah tentang Imamah dapat dibagi dalam dua hal penting Pertama, pemikiran Syi'ah ketika para Imam mereka masih hidup Pemikiran ini lebih dititik beratkan kepada keabsahan para Imam sebagai pelanjut kepemimpinan Nabi saw Kedua, pemikiran Syi'ah yang berlangsung setelah ghaibnya Imam al-Mahdi seperti diungkapkan Sachedine, dalam perkembangan sikap politis kaum Syi'ah tiga pengalaman mempunyai peranan yang amat besar yaitu syahadah (kesyahidan), ghaybah (kegaiban), taqiyyah (penyembunyian kebenaran demi kewaspadaan dan demi mencegah kesia-siaan)
Kegaiban terbagi dalam dua tingkatan Pertama, masa kegaiban kecil (minor occultation/Gaibah al-Sughra) yaitu ketika Imam Mahdi bersembunyi didunia fisik dan mewakilkan kepemimpinannya kepada para wakil Imam Pada masa ini kesulitan dalam hal marja' (kepemimpinan agama dan politik) relatif bisa diatasi Karena posisi marja' "dijabat" oleh empat wakil al-Mahdi mereka adalah Abu 'Amir 'Uthman, Abu Ja'far Muhammad, Abu al-Qashim al-Husain dan Abu al-Hasan Ali Kedua, disebut sebagai masa "kegaiban besar" (mayor of cultation / Ghaibah al-Kubra) yaitu masa pasca meninggalnya keempat wakil Imam sampai kedatangan kembali al-Mahdi pada akhir zaman Pada masa "kegaiban besar" (gaib sempurna) inilah kepemimpinan yang dilanjutkan oleh para faqih Jadi jika para Imam membimbing umat setelah berakhirnya "Siklus wahyu", artinya setelah wafatnya Rasul maka para faqih berkewajiban membimbing umat setelah berakhirnya "siklus Imamah", yaitu setelah tiadanya Imam dengan perbedaan, tentu saja bahwa faqih tidaklah memiliki ishmah (Unfallibility) atau atribut-atribut istimewa lainnya dari para Imamah
6. Kesimpulan
Sebagai penutup dapat dinyatakan bahwa golongan Syi'ah adalah kelompok yang memperlakukan Ali secara berlebihan dan memusuhi kelompok yang memusuhinya Pada saat yang sama terdapat ide anti demokrasi yang tertuang dalam konsep Imamah Sebab Imam adalah orang yang mengetahui mana yang terbaik, sehingga bila ia ditaati, semuanya akan berjalan dengan baik, sebaliknya bila pendapat umum yang diutamakan akan terjadi suatu kesalahan Selanjutnya kelompok Syi'ah ini dapat juga disebut sebagai blok karena gagasan Imamahnya bersifat ketuhanan yang diwarisi oleh Rasulullah yang diangkat oleh Allah Oleh sebab itu mereka menggantungkan diri pada kepemimpinan kharismatik untuk memperoleh keamanan dan seselamatan Wallahu A’lam

Lampiran
Silsilah Para Imam Syiah Itsna Asyariyah

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Aziz A Sachedina, The Just Ruler (al-Shultan al-Adl) In Syi'i Islam,(Terj Ilyas hasan), Bandung: Mizan, 1991

------------------------------, Kepemimpinan Dalam Islam, Bandung: Mizan, 1991

Allamah Thabataba'i, Islam Syi'ah, Jakarta: Grafiti, 1989

Allama M Husain al-Kahful Ghita, The Origin Of Syi'ite Islam and its Pinciples: Qum Ansariyan, 1989

Ali as-Salul, Aqidah wa al-Imamah Inda Syi'ah Itsna Asyariyah, (terj), Jakarta: GIP 1997

A Syalabi, Sejarah Dan Kebudayaan Islam 2, Jakarta: al-Husna Zikra, 1983

M Joesoef Sou'yb, Syiah: Studi tentang Aliran-aliran Dan Tokoh-Tokohnya, Jakarta: al-Husna Zikra

Ibrahim Madkour, Aliran Dan Teori Filsafat Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1995

Imam Muhammad Abu Zahrah, Aliran Politik dan Aqidah Dalam Islam, Jakarta: Logos Publishing House, 1996

Jalaluddin Rahmat, Islam alternatif, Bandung: Mizan, 1986

Musa al-Musawi, Meluruskan Penyimpangan Syi'ah, Jakarta: Tp 1993

Mehdi Mujaffari, Authority In Islam, From Muhammad To Khumaini, London: Mec Sarvehamid Enayat, Reaksi Politik Sunni Dan Syi'ah, Bandung: Pustaka, 1988

----------------- Mengapa Kita Menolak Syi'ah, Jakarta: Lembaga Penelitian & Pengkajian Islam, (LPPI), 1998

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar