Jumat, 30 Oktober 2009

PASANG SURUT TAREKAT

ABSTRACTION

Tarekat in etimology is way or manner, which can be identified with word like: syari’ah, sabil, sirath and manhaj. By tarekat someone takes some phsicology levels in faith and practise of islam rule. Completely, tarekat in the beginning means way that has tobe taken for a sufi to get knowledge to get closer to The God, then develop to became a family organization of sufi follower which has same stream and certain ways in practicing religion experience under supervising of a mursyid.
Among the largest tarekat untill now is Naqsyabandiyah. This tarekat is found by Muhammad Ibn Muhammad Baha’ al-Din al-Naqsyabandiyah. This Syaikh was born in a villlage near Bukhara, in 1317 M.
As an Institution that held spiritual education for ummat to get close to The God, so the existency of tarekat must be supported and must be developed. By this way, moslem has the strong beliefly and good sense of religious for challenge globalizations era.

A. Prologue
Gerakan sufi yang muncul dalam permukaan sejarah Islam dapat dikatakan merupakan reaksi terhadap penafsiran tentang Islam yang terlalu menekankan aspek hukum yang kemudian mengarah kepada pemujaan terhadap hukum sebagai suatu ekspresi Islam yang komprehensif dan menyeluruh, padahal hukum itu sendiri hanyalah berkaitan dengan tingkah laku eksternal-lahiriyah manusia dan masyarakat, sehingga para sufi meragukan validitas pemahaman Islam seperti yang dikembangkan oleh para fuqaha' atau para ahli hukum Juga merupakan reaksi terhadap glamoritas material dan kemewahan duniawi yang mengarah kepada reduksiasi dan eliminasi terhadap aspek kejiwaan, kerohanian dan spiritualitas kemanusiaannya
Selain tasawwuf, didalam Islam juga dijumpai dan telah berkembang sebuah institusi yang disebut dengan tarekat yang mengadakan pembinaan rohaniah untuk berada sedekat-dekatnya kepada Allah Swt sebagaimana tujuan tasawwuf Menurut suatu pendapat bahwa institusi ini merupakan klimaks dari pengembangan pengamalan dan penerapan ajaran tasawwuf Perbedaannya, bila tasawwuf merupakan renungan dan aktifitas individual yang hanya dapat dinikmati antar kalangan elit kerohanian, sedangkan tarekat berbentuk aktivitas massal dari kaum muslimin yang didalamnya terdapat suatu ikatan yang sangat ketat antara guru (mursyid) dengan para murid dengan pola guru sentris
Ajaran tasawwuf yang mempunyai praktek-praktek tertentu akhirnya melembaga menjadi organisasi tarekat Tarekat mengambil bentuk organisasi yang memiliki praktek-praktek spiritual tertentu telah berkembang didunia Islam sejak abad klasik Perkembangan itu terjadi, pada mulanya tidak begitu semarak Namun, diabad pertengahan Islam, organisasi (tarekat) sufi tersebut menjadi gejala umum di jazirah Islam Perkembangan itu terus melaju hingga abad ke - 19
Melihat gambaran umum dari pada tarekat yang menjadi topik pembahasan makalah ini, cukup menarik untuk dikaji keberadaannya Permasalahannya adalah bagaimana sejarah lahirnya tarekat ini, sebagai sebuah institusi yang mengadakan latihan-latihan / pendidikan pengamalan dan penerapan ajaran tasawwuf kepada masyarakat umum Dapat diketahui bahwa tasawwuf merupakan pengamalan sisi esoterik dari ajaran agama dan berhubungan dengan dzauq yang tidak sembarangan orang mampu memasukinya Kajian ini terasa lebih menarik karena adanya pandangan yang pro-kontra terhadap keberadaannya, dan pengaruhnya didunia Islam

B. Wacana Tarekat
Tarekat secara bahasa berarti jalan atau cara, yang dapat diidentikkan dengan perkataan syari'ah, sabil, sirath dan manhaj Kata tariqah dalam bahasa arab ta, ra, qaf dan ta' marbuthah menjadi sebuah pengertian dalam pemahaman kaum sufi atau orang yang ingin memahami sufisme Karena tarekat tidak dijelaskan oleh satu orang, maka tarekat mempunyai banyak pengertian, hal itu tidak terlepas dari ajaran-ajaran sufi sebagai jalan untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan, sehingga makna secara bahasa diteruskan menjadi pemahaman secara istilah (epistimologi)
Adapun tarekat dalam beberapa pengertian antara lain adalah jalan yang ditempuh oleh para sufi, dan digambarkan sebagai metode (the path; dalam bahasa Inggris) yang berpangkal dari syari'at, sebab jalan utama disebut syara' dan anak jalannya disebut thariq Karena tarekat dipergunakan pada terminologi suluk yang berarti perjalanan, yang akhirnya bermakna sebagai seperangkat etika dan moral yang menjadi pegangan para sufi, yang mengekspresikan aspek psiko-moral tasawwuf, yang tercermin dalam kehidupan sufi untuk menuju kepada Tuhan dan terdiri dari fase-fase yaitu maqamat dan hal Tarekat dalam perspektif inilah yang digunakan oleh al-Junaid (w 910), al-Hallaj (w 922), al-Sarraj (w 988), al-Hujwiri (w 1072), dan al-Qusyairi (w 1074)
Melalui tarekat, seseorang menempuh berbagai tingkatan psikologis dalam keimanan dan pengamalan ajaran Islam Ia dapat mencapai pengetahuan tentang Tuhan dari satu hirarki ke hirarki yang lebih tinggi, sehingga akhirnya ia mencapai "realitas" Mengetahui Tuhan adalah dalam bentuk mengalami Kata mengalami dalam bahasa Indonesia agaknya lebih representatif dengan istilah merasakan kehadiran Tuhan
Trimingham mendeskirpsikan tarekat dengan suatu merode praktis dalam membimbing murid dengan menggunakan pikiran, perasaan dan maqam-maqam secara hirarki untuk merasakan hakekat Tuhan Oleh Harun Nasution, dengan sangat ringkas, tarekat ia definisikan sebagai suatu jalan yang harus ditempuh seorang calon sufi agar berada sedekat mungkin dengan Allah Definisi yang disebut terakhir ini merupakan rumusan inti yang secara simplistis dapat mendeskripsikan karakteristik umum tarekat di dunia Islam
Menggarisbawahi penjelasan Trimingham yang menggunakan perkataan "at first a tariqa meant simply" tersebut menunjukkan indikasi adanya pergeseran makna pada masa selanjutnya sehubungan dengan ini, Harun Nasution menjelaskan bahwa pada masa awalnya tarekat merupakan jalan yang harus ditempuh seorang calon sufi dalam tujuan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, kemudian berkembang menjadi sebuah organisasi yang mempunyai syaikh, upacara ritual dan bentuk zikir tertentu
Secara lebih lengkap, yakni tarekat yang pada mulanya berarti jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk memperoleh ma'rifat dalam usahanya mendekatkan diri kepada Tuhan, kemudian berkembang menjadi suatu organisasi kekeluargaan pengikut sufi yang sealiran dan mempunyai cara-cara tertentu dalam latihan pengalaman agama dibawah pengawasan seorang mursyid Mereka berkumpul dalam satu tempat yang dsebut ribath atau zawiyah yang berfungsi sebagai pusat pengajaran mencapai ilmu ma'rifat Proses pengajaran berjalan dengan satu cara yang diatur oleh syaikh Perkumpulan ini diberi nama yang dinisbahkan kepada pendirinya
Dengan penjelasan tersebut sudah dapat dipahami pengertian daripada tarekat khususnya dalam konteks pembicaraan pada masa sekarang ini, yakni sebuah organisasi yang didalamnya terdapat unsur-unsur syaikh atau mursyid, murid sebagai anggota dalam latihan-latihan spiritual untuk mencapai ma'rifah atau mendekatkan diri kepada Tuhan Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas dapat dilihat uraian dibawah ini
1. Syaikh/Mursyid, adalah seseorang yang sudah merasakan kehadiran Tuhan dan melimpahkan perasaannya (pengalamannya) kepada orang lain Ia tidak saja berperan sebagai pemimpin dan penuntun murid-muridnya (anggota tarekat) dalam bidang kerohanian, tetapi juga penghubung dalam ibadat antara murid dan Tuhan karenanya terdapat sejumlah kriteria yang harus dimilikinya, diantaranya yang paling penting adalah pertama, alim dan ahli dalam memberikan tuntutanan-tuntunan ilmu fiqh, 'aqaid an tauhid, kedua, mengenal atau arif dengan segala sifat-sifat kesempurnaan hati, dan ketiga, segala perbuatan dan ucapannya bersih dari pengaruh nafsu
2. Murid, yakni pengikut tarekat yang menghendaki pengetahuan dan petunjuk mengenai segala amal ibadah dari mursyid Sebagai murid mereka menyerahkan diri dan tunduk dengan sepenuh-penuhnya kepada gurunya, sehingga guru menjadi penentu "merah-putihnya" nasib mereka {Penyerahan diri serta kepasrahan dimaksud bagaikan sosok mayat yang berada ditangan orang-orang yang memandikannya
3. Latihan spiritual / upacara ritual Masing-masing tarekat memiliki bentuk latihan spiritual / ritual keagamaan tersendiri Namun secara umum diantaranya seperti : (1) berkhalwat atau I'tikaf di zawiyah selama beberapa hari atas petunjuk mursyid, (2) berzikir dengan menyebut nama Allah atau sifat-sifatnya secara zahir dan bathin, dan (3) tawajjuh atau zikir berjamaah yang disertai perenungan bathin Kesemuanya ini dilaksanakan dengan tata cara yang telah dirumuskan dan diajarkan masing-masing mursyid

C. Sejarah Munculnya Tarekat Dan Perkembangannya Didunia Islam
Pada awalnya tarekat hanya berarti jalan menuju Tuhan yang ditempuh seorang sufi secara individual Tetapi selanjutnya para ahli sufi mengajarkan tarekat yang ia tempuh itu kepada para muridnya, baik secara personal maupun organisatoral jadilah tarekat dalam hal ini bermakna jalan menuju Tuhan dibawah bimbingan seorang guru sufi Disamping itu munculnya tarekat sebagai sebuah institusi yang melakukan pembinaan batin masyarakat umum untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah tidak terlepas daripada keberadaan tasawwuf serta kecenderungan kondisi kehidupan umat
Dalam situasi seperti itu wajarlah kalau umat Islam mencari kompensasi, yakni berpegang pada doktrin yang dapat menentramkan jiwanya Tarekat dalam hal ini merupakan warisan kultural yang diwariskan oleh ulama Islam sebelumnya yang dianggap telah banyak berhasil dalam segi menentramkan psikis seseorang yang berbasiskan agama Islam Oleh sebab itu "pelarian" terhadap tarekat merupakan hal yang logis
Keberadaan tasawwuf sebagai faktor pendukung terbentuknya tarekat berkaitan dengan munculnya orang-orang sufi yang menjadi mursyid pada masa embrio pertumbuhannya Karena penyebaran ajaran tasawwuf (ketarekatan) secara massal dimulai dengan adanya mursyid-mursyid yang berhasil menyusun teknik-teknik zikir dan ritual lainnya untuk membimbing murid-muridnya, sedangkan lahirnya orang-orang suci tidak terlepas dari pengamalan dan pengalaman ketasawwufan
Sesuai dengan realita, orang-orang suci atau mursyid memiliki kelebihan-kelebihan yang bersifat supernatural dan menguasai ilmu ghaib Sementara masyarakat awam pada umumnya cukup menaruh minat dan mengagumi cerita-cerita tentang orang-orang suci dan ilmu-ilmu ghaib yang mereka kuasai Hal ini terlebih-lebih para mursyid mempropagandakan bahwa ketasawwufan / ketarekatan dapat mengantarkan manusia kepada kedalaman spiritual, kemantapan keyakinan agama dan keindahan akhlak, yang akhirnya meimbulkan rasa kebahagiaan hidup Pada saat yang bersamaan masyarakat umum sedang dihadapkan kepada problema sosial politik dan sangat mendambakan kedamaian dan kebahagiaan
Tanggal kelahiran tarekat tersebut sangat sulit dilacak dalam sejarah perkembangannya Namun dapat diprediksikan bahwa tarekat sudah muncul dalam perkembangan tasawwuf pada abad ke-3 dan 4 Hijriah, misalnya adalah tarekat al-Saqatiyyah, al-Tayfuriyyah, al-Hanraziyyah, al-Nuriyyah dan al-Malamatiyyah Adapun aliran seperti Qadariyah, Suhrawardiyah, dan Rifa'iyyah baru diketahui kelahirannya pada abad ke-3 Hijriah Semisal proses kelahiran tarekat pada awalnya, tarekat-tarekat yang disebutkan terakhir ini adalah juga terbentuk oleh kelompok murid-murid sufi besar
Pada masa pertengahan abad ke-3 Hijriyah, ajaran-ajaran tasawwuf sudah mulai diajarkan secara umum di Baghdad dan menarik minat yang luar biasa dari orang-orang awam Sebagaimana dikutip oleh DR Dimuh dari kitab al-Tashawwuf fi asy-Syi'ri al- Arabi, karya 'Abd al-Hakim Hassan dan buku Readings from the Myistics of Islam tulisan Margaret Smith, bahwa Junaid al-Baghdadi (w 297 H/910 M) merupakan salah seorang tokoh yang menetapkan kaedah-kaedah paham tasawwuf dan menyusun aturan-aturan bagi murid-muridnya yang berjumlah lebih kurang sepuluh orang
Walaupun pada saat itu sudah terdapat mursyid seperti yang diperankan al-Junaid al-Baghadi, murid serta kaedah dan peraturan yang ditetapkannya sangat sulit untuk mengatakan bahwa tarekat telah muncul pada abad ke-3 H/9 M karena belum pernah dijumpai penyebutan sebuah tarekat dengan nama tarekat Junaid sedangkan salahsatu ciri dari pada tarekat berupa nama yang diambil dari nama pendirinya, seperti tarekat Qadiriyah yang dibina oleh Syaikh Abd Qadir al-Jailani Dengan demikian keberadaan Junaid cenderung hanya sebagai perintis atau peletak sistem ketarekatan
Dengan lagkah-langkah yang dilakukan Junaid, para pemuka tasawwuf lainnya dan murid-murid mereka, maka bermunculanlah sejumlah tarekat, terutama sekali didaerah Mesopotamia (Irak) yang bertalian dengan Junaid al-Baghdadi dan daerah Khurasan (Iran) yang bertalian dengan Abu Yazid al-Bustami
Dalam wilayah Mesopotamia terdapat beberapa tarekat yang muncul, diantaranya yang terpenting dan sangat berpengaruh terhadap perkembangan tarekat pada masaberikutnya,ialah:
1. Suhrawrdiyah, didirikan oleh Shihab al-Din Abu Hafs al-Umar (539-632 H / 1145-1234 M) Ia mendapat didikan tarekat dari pamnnya Abu an-Najib as-Suhrawardi (w 563 H / 1168 M) yang merupakan murid dari Ahmad al-Ghazali (w 520 H / 1126 M) Atas prakarsa murid-muridnya, tarekat ini berkembang ke berbagai wilayah Islam dan memiliki cabang-cabang yang cukup banyak
2. Rifa'iyyah, dibentuk oleh Ahmad Ibn 'Ali al-Rifa'i (1106-1182 M) Tarekat ini berkembang terutama sekali ke daerah Mesir dan Syiria dengan cabag-cabang seperti Badawiyya, Dasuqiyya, Shadiliyya dan Alwaniyya
3. Qadiriyya, dinisbahkan kepada Muhyiddin Abdul Qadir Ibn Abdullah al-Jailani (471-561 H / 1078-1166 M) Sebenarnya ia berperan sebagai pemuka Mazhab Hanbali atau seorang ulama, bukan seorang sufi Hanya keluarga dan murid-muridnya yang memandangnya sebagai mursyid tarekat (sufi) Kemudian atas prakarsa murid-muridnya ajaran-ajarannya meluas ke berbagai daerah Islam seperti Yaman, Syiria, dan Mesir
Selanjutnya adapun pertumbuhan dan perkembangan tarekat di Khurasan (Iran) dimulai dari tokoh seorang tasawwuf bernama Abu Ya'kub Yusuf al-Hamdani al-Buzanjirdi (441-535 H / 1049-1140 M) Diantara murid-muridnya terdapat Abd al-Khalid al-Ghuzdawani (w1220 M) yang menjadi pendiri tarekat Khawajaganiyya, serta Ahmad Ibn Ibtahim Ali al-Yasavi (w 1169 M) yang membentuk tarekat Yasaviyya Tarekat Khawajaganiyya berkembang di Turkistan dengan nama Naqsabandiyah yang didirikan oleh Muhammad Baha al-Din an-Naqsabandiyah al-Awisi (w 1389 M), sedangkan tarekat Yasaviyya berkembang ke berbagai daerah Islam, terutama sekali kedaerah Turki dengan nama Bektasiyya yang dibentuk Muhammad Ata' Ibn Ibrahim Hajji Bektash (w 1335 M)
Selain kedua tarekat tersebut, dari rumpun Khurasan ini masih dijumpai beberapa nama, terutama sekali tarekat Khalwatiyya yang dibentuk Umar Khalwati (w 1397 M) Tarekat ini berkembang luas di Turki, Syiria, Mesir dan Yaman Di Mesir, tarekat Khalwatiyya yang dibangun Ibrahim Gulsheini (w 1534 M) menimbulkan beberapa cabang, diantaranya tarekat Sammaniyya yang didirikan oleh Muhammad ibn Abd al-al-Karim Sammani (1718-1775 M)
Sebenarnya masih banyak lagi perkumpulan dan nama-nama tarekat yang tumbuh dan berkembang didunia Islam Karena murid-murid dari masing-masing tarekat yang telah mencapai kematangan pengamalan dan pengalaman akan membentuk perkumpulan baru dan bahkan dengan nama-nama yang baru pula, sehingga menimbulkan sejumlah besar cabang-cabang dan ranting-ranting
Diantara tarekat yang terbesar hingga saat ini adalah tarekat Naqsyabandiyah tarekat ini didirikan oleh Muhammad Ibn Muhammad Baha' al-Din al-Naqsyabandiyyah Syaikh ini dilahirkan disuatu desa dekat Bukhara, pada tahun 1317 M Tarekat ini memiliki pengikut di Turki, Kurdistan, Afganistan, Syria, Dagistan, Asia Tengah, Pakistan, China dan Asia tenggara seperti halnya Thailand, Filiphina, Malaysia dan Indonesia 
Dari sekian banyak tarekat yang telah disebutkan diatas terdapat sebahagian diantaranya masuk dan berkembang di Indonesia, yakni Qadiriyyah, Rifa'iyyah, Naqsabandiyyah, Khalwatiyyah dan Sammaniyyah Tarekat-tarekat ini masuk ke Indonesia diperhitungkan sejak abad ke-8 H yang dibawa oleh para saudagar dari Parsi, Tanah Arab, India serta ulama-ulama Indonesia yang menunaikan ibadah haji dan sempat menetap di Mekkah seperti Abdul Rauf Singkel

D. Pengaruh Tarekat di Dunia Islam
Melihat pertumbuhan dan perkembangan tarekat sebagaimana uraian diatas, dapat diambil suatu pemahaman bahwa keberadaannya memberikan dampak positif terhadap penyebaran agama Islam Merupakan fakta nyata yang sulit dipungkiri bahwa masuknya Islam ke India, Indonesia dan Afrika tidak terlepas dari usaha-usaha yang dilakukan oleh para pengikut dan penganjur tarekat Hal ini disebabkan disamping ajaran-ajaran yang mereka sampaikan menjanjikan kedamaian dan kebahagiaan hidup, juga didukung oleh kemampuan mereka dalam menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi masyarakat yang mereka hadapi
Kemudian satu hal yang tidak kalah pentingnya, bahwa tarekat telah turut serta berjuang dalam melawan dan mengusir penjajah Hal ini dapat dilihat dalam sejarah dibeberapa negara Islam seperti Sudan, Maroko dan Indonesia Mereka berjuang dengan penuh semangat jihad dan tanpa pamrih bersama dengan masyarakat
Selain dampak positif tersebut diatas, keberadaan tarekat kiranya juga mendatangkan dampak negatif bagi keberadaan umat, terutama sekali menyangkut kemurnian aqidah dan perkembangan pemikiran Seperti para Mursyid memiliki suatu kemampuan bathin atau kekuatan yang bersifat supernatural Dengan hal ini banyak masyarakat mengkeramatkan mereka dan menjadikannya sebagai wasilah dalam bermohon kepada Tuhan Hal ini tidak saja ketika mereka masih hidup, melainkan juga setelah mereka meninggal dunia Kuburan-kuburan mereka dijadikan tempat keramat dan selalu diziarahi dan dipuja-puja untuk mendapatkan restu serta keberuntungan
Bersamaan dengan itu pula, sebagaimana diketahui bahwa didalam tarekat terdapat sistim yang menuntut kepatuhan yang demikian kuat para murid atau pengikut tarekat terhadap mursyid Mereka dijadikan sebagai sumber petunjuk dan segala yang mereka sampaikan sebagai suatu kebenaran atau tidak dipertanyakan lagi
Dari sisi lain Muhammad Abduh, sebagaimana dikutip oleh Zakaria Hasyim Zakaria, memberikan gambaran bahwa tarekat-tarekat itu sebagai kelompok campuran yang dipersatukan oleh suatu kepentingan: melarikan diri dari dunia, senang bermalas-malasan dan menjauhkan diri dari kerja yang bermanfaat bagi kepentingan umat manusia Dengan demikian tarekat-tarekat ini juga mendorong suburnya semangat jabariah Pengaruh negatif yang ditimbulkan tarekat tersebut, walaupun pada konteks kekinian dirasa sudah berkurang tetapi masih cukup dirasakan Hal ini terutama berupa pengkeramatan terhadap mursyid dan kuburannya
Gerakan tarekat ini telah mengalami pasang surut mulai pada akhir abad ke-20 Hal ini seiring dengan munculnya gerakan pembaharuan dalam dunia Islam yang dimotori oleh Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha Hingga saat ini, gerakan-gerakan tarekat didunia Islam masih tetap eksis, kendati tidak sesemarak pada era keemasannya

E. E p i l o g u e
Dalam dunia sufi, tarekat dipahami sebagai sebuah metode psikologi moral untuk membimbing seseorang mengenal Tuhan Media olah spiritual ini lahir sebagai reaksi terhadap kondisi sosial politik yang tidak stabil sekitar abad ke-3 H Hal ini ditandai dengan perang salib dibelahan barat dan serangan tentara Mongol di belahan Timur Akibatnya, timbul usaha mencari kompensasi dikalangan umat Islam, yakni melalui tarekat dengan berpegang kepada doktrin yang dapat menentramkan jiwa Era kejayaannya adalah sekitar abad ke-7 hingga awal abad ke-20 Saat ini gerakan tarekat tetap eksis, walau tidak sesemarak era kejayaannya
Sebagai sebuah institusi yang mengadakan pembinaan rohaniah umat untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah, maka keberadaan tarekat patut didukung dan dikembangkan Dengan hal ini diharapkan umat memiliki iman yang kokoh dan semangat keberagamaan yang tinggi, sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan zaman Namun melihat berbagai dampak negatif yang ditimbulkannya, maka pola atau sistem lama perlu ada pembaharuan, terutama sekali dalam rangka menghindari tradisi pengkeramatan terhadap para mursyid dan kuburan-kuburan mereka yang dipandang dapat "mengotori" kemurnian aqidah umat Wallahu A’lam.

Daftar Pustaka
Simuh, Tasawwuf Dan Perkembangannya Dalam Islam., ( Jakarta, Raja Grafindo, 1996 )
Louis Ma'luf, Al-Munjid, (Beirut, Dar Al-Masyriq, 1973)
AW Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab - Indonesia, (Ygyakarta, Pustaka Progressif, 1984)
Nurcholis Majid, Islam Agama Peradaban; Membangun Makna Dan Relevansi Dalam Sejarah, Jakarta, Paramadina, 1995)
Abu Al-Wafa' Al-Ghanimy Al-Taftazani, Madkhal Ila Al-Tashawwuf Al-Islamiy, (Mesir, Dar Al-Tsaqafah, 1973)
Mirce Aliade, The Encyclopedia Of Islam, (New York, Mac Millan Publishing, 1987)
J Spencer Trimingham, The Sufi Orders Of Islam, (London, Oxford University Press, 1973) Harun Nasution, Tarekat Qadariyyah Naqsyabandiyah, (Tasik Malaya, Iailm, 1990)
Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta, Bulan Bintang, 1986), Hal 89
Departemen Agama Ri, Ensiklopedi Islam, (Jakarta, Dirjen Binbaga Islam, 1992/1993)
Soekarna Karya Dkk, Ensiklopedi Mini Sejarah Dan Kebudayaan Islam, (Jakarta, Logos, 1996)
Aboe Bakar Atjeh, Pengantar Sejarah Sufi Dan Tasawwuf, (Semarang, Ramadhani, 1984)
Fazlur Rahman, Islam, Terj Senoaji Saleh, (Jakarta, Bumi Aksara, 1992)
Ahmad Tafsir, Tarekat Dan Hubungannya Dengan Tasawwuf, Dalam Harun Nasution, Tarekat Qadariyyah Naqsyabandiyyah, (Tasik Malaya, Tasik Malaya, Iailm, 1990)
K Ali, A Study Of Islamic History, (India, Idarah Adabi, 1980), Hal 273-280
Harun Nasution, Akal Dan Wahyu Dalam Islam, (Jakarta, Ui Press, 1982), Hal 35
Mushtafa Hilmi, Al-Hayat Al-Ruh Fi Al-Islam, (Kairo, Mesir, Daar Al-Ihya', 1945)
Taiftazani, Sufi Dari Zaman Ke Zaman, (Bandung, Pustaka, 1974)
Iain Sumatera Utara, Pengantar Ilmu Tasawwuf, (Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, Sumatera Utara, 1981-1982)
Martin Van Bruinessen, The Tarekat Naqsyabandiyyah In Indonesia, Alih Bahasa Hamid Algar, Tarekat Naqsyabandiyyah Di Indonesia, (Bandung, Mizan, 1996)
Annemarie Schimmel, Mystical Dimension Of Islam, Terj Sapardi Djoko Damono, (Jakarta, Pustaka Firdaus, 1986)
Zakaria Hasyim Zakaria, Araa'a Falsafah Wa 'Abaaqarah Al-Gharbi Fi Islam, Terj Salim Basyarakhil, (Jakarta: Gema Insani Press, 1991)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar