Tampilkan postingan dengan label tasawwuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tasawwuf. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Oktober 2009

PASANG SURUT TAREKAT

ABSTRACTION

Tarekat in etimology is way or manner, which can be identified with word like: syari’ah, sabil, sirath and manhaj. By tarekat someone takes some phsicology levels in faith and practise of islam rule. Completely, tarekat in the beginning means way that has tobe taken for a sufi to get knowledge to get closer to The God, then develop to became a family organization of sufi follower which has same stream and certain ways in practicing religion experience under supervising of a mursyid.
Among the largest tarekat untill now is Naqsyabandiyah. This tarekat is found by Muhammad Ibn Muhammad Baha’ al-Din al-Naqsyabandiyah. This Syaikh was born in a villlage near Bukhara, in 1317 M.
As an Institution that held spiritual education for ummat to get close to The God, so the existency of tarekat must be supported and must be developed. By this way, moslem has the strong beliefly and good sense of religious for challenge globalizations era.

A. Prologue
Gerakan sufi yang muncul dalam permukaan sejarah Islam dapat dikatakan merupakan reaksi terhadap penafsiran tentang Islam yang terlalu menekankan aspek hukum yang kemudian mengarah kepada pemujaan terhadap hukum sebagai suatu ekspresi Islam yang komprehensif dan menyeluruh, padahal hukum itu sendiri hanyalah berkaitan dengan tingkah laku eksternal-lahiriyah manusia dan masyarakat, sehingga para sufi meragukan validitas pemahaman Islam seperti yang dikembangkan oleh para fuqaha' atau para ahli hukum Juga merupakan reaksi terhadap glamoritas material dan kemewahan duniawi yang mengarah kepada reduksiasi dan eliminasi terhadap aspek kejiwaan, kerohanian dan spiritualitas kemanusiaannya
Selain tasawwuf, didalam Islam juga dijumpai dan telah berkembang sebuah institusi yang disebut dengan tarekat yang mengadakan pembinaan rohaniah untuk berada sedekat-dekatnya kepada Allah Swt sebagaimana tujuan tasawwuf Menurut suatu pendapat bahwa institusi ini merupakan klimaks dari pengembangan pengamalan dan penerapan ajaran tasawwuf Perbedaannya, bila tasawwuf merupakan renungan dan aktifitas individual yang hanya dapat dinikmati antar kalangan elit kerohanian, sedangkan tarekat berbentuk aktivitas massal dari kaum muslimin yang didalamnya terdapat suatu ikatan yang sangat ketat antara guru (mursyid) dengan para murid dengan pola guru sentris
Ajaran tasawwuf yang mempunyai praktek-praktek tertentu akhirnya melembaga menjadi organisasi tarekat Tarekat mengambil bentuk organisasi yang memiliki praktek-praktek spiritual tertentu telah berkembang didunia Islam sejak abad klasik Perkembangan itu terjadi, pada mulanya tidak begitu semarak Namun, diabad pertengahan Islam, organisasi (tarekat) sufi tersebut menjadi gejala umum di jazirah Islam Perkembangan itu terus melaju hingga abad ke - 19
Melihat gambaran umum dari pada tarekat yang menjadi topik pembahasan makalah ini, cukup menarik untuk dikaji keberadaannya Permasalahannya adalah bagaimana sejarah lahirnya tarekat ini, sebagai sebuah institusi yang mengadakan latihan-latihan / pendidikan pengamalan dan penerapan ajaran tasawwuf kepada masyarakat umum Dapat diketahui bahwa tasawwuf merupakan pengamalan sisi esoterik dari ajaran agama dan berhubungan dengan dzauq yang tidak sembarangan orang mampu memasukinya Kajian ini terasa lebih menarik karena adanya pandangan yang pro-kontra terhadap keberadaannya, dan pengaruhnya didunia Islam

B. Wacana Tarekat
Tarekat secara bahasa berarti jalan atau cara, yang dapat diidentikkan dengan perkataan syari'ah, sabil, sirath dan manhaj Kata tariqah dalam bahasa arab ta, ra, qaf dan ta' marbuthah menjadi sebuah pengertian dalam pemahaman kaum sufi atau orang yang ingin memahami sufisme Karena tarekat tidak dijelaskan oleh satu orang, maka tarekat mempunyai banyak pengertian, hal itu tidak terlepas dari ajaran-ajaran sufi sebagai jalan untuk mencapai kedekatan dengan Tuhan, sehingga makna secara bahasa diteruskan menjadi pemahaman secara istilah (epistimologi)
Adapun tarekat dalam beberapa pengertian antara lain adalah jalan yang ditempuh oleh para sufi, dan digambarkan sebagai metode (the path; dalam bahasa Inggris) yang berpangkal dari syari'at, sebab jalan utama disebut syara' dan anak jalannya disebut thariq Karena tarekat dipergunakan pada terminologi suluk yang berarti perjalanan, yang akhirnya bermakna sebagai seperangkat etika dan moral yang menjadi pegangan para sufi, yang mengekspresikan aspek psiko-moral tasawwuf, yang tercermin dalam kehidupan sufi untuk menuju kepada Tuhan dan terdiri dari fase-fase yaitu maqamat dan hal Tarekat dalam perspektif inilah yang digunakan oleh al-Junaid (w 910), al-Hallaj (w 922), al-Sarraj (w 988), al-Hujwiri (w 1072), dan al-Qusyairi (w 1074)
Melalui tarekat, seseorang menempuh berbagai tingkatan psikologis dalam keimanan dan pengamalan ajaran Islam Ia dapat mencapai pengetahuan tentang Tuhan dari satu hirarki ke hirarki yang lebih tinggi, sehingga akhirnya ia mencapai "realitas" Mengetahui Tuhan adalah dalam bentuk mengalami Kata mengalami dalam bahasa Indonesia agaknya lebih representatif dengan istilah merasakan kehadiran Tuhan
Trimingham mendeskirpsikan tarekat dengan suatu merode praktis dalam membimbing murid dengan menggunakan pikiran, perasaan dan maqam-maqam secara hirarki untuk merasakan hakekat Tuhan Oleh Harun Nasution, dengan sangat ringkas, tarekat ia definisikan sebagai suatu jalan yang harus ditempuh seorang calon sufi agar berada sedekat mungkin dengan Allah Definisi yang disebut terakhir ini merupakan rumusan inti yang secara simplistis dapat mendeskripsikan karakteristik umum tarekat di dunia Islam
Menggarisbawahi penjelasan Trimingham yang menggunakan perkataan "at first a tariqa meant simply" tersebut menunjukkan indikasi adanya pergeseran makna pada masa selanjutnya sehubungan dengan ini, Harun Nasution menjelaskan bahwa pada masa awalnya tarekat merupakan jalan yang harus ditempuh seorang calon sufi dalam tujuan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, kemudian berkembang menjadi sebuah organisasi yang mempunyai syaikh, upacara ritual dan bentuk zikir tertentu
Secara lebih lengkap, yakni tarekat yang pada mulanya berarti jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk memperoleh ma'rifat dalam usahanya mendekatkan diri kepada Tuhan, kemudian berkembang menjadi suatu organisasi kekeluargaan pengikut sufi yang sealiran dan mempunyai cara-cara tertentu dalam latihan pengalaman agama dibawah pengawasan seorang mursyid Mereka berkumpul dalam satu tempat yang dsebut ribath atau zawiyah yang berfungsi sebagai pusat pengajaran mencapai ilmu ma'rifat Proses pengajaran berjalan dengan satu cara yang diatur oleh syaikh Perkumpulan ini diberi nama yang dinisbahkan kepada pendirinya
Dengan penjelasan tersebut sudah dapat dipahami pengertian daripada tarekat khususnya dalam konteks pembicaraan pada masa sekarang ini, yakni sebuah organisasi yang didalamnya terdapat unsur-unsur syaikh atau mursyid, murid sebagai anggota dalam latihan-latihan spiritual untuk mencapai ma'rifah atau mendekatkan diri kepada Tuhan Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas dapat dilihat uraian dibawah ini
1. Syaikh/Mursyid, adalah seseorang yang sudah merasakan kehadiran Tuhan dan melimpahkan perasaannya (pengalamannya) kepada orang lain Ia tidak saja berperan sebagai pemimpin dan penuntun murid-muridnya (anggota tarekat) dalam bidang kerohanian, tetapi juga penghubung dalam ibadat antara murid dan Tuhan karenanya terdapat sejumlah kriteria yang harus dimilikinya, diantaranya yang paling penting adalah pertama, alim dan ahli dalam memberikan tuntutanan-tuntunan ilmu fiqh, 'aqaid an tauhid, kedua, mengenal atau arif dengan segala sifat-sifat kesempurnaan hati, dan ketiga, segala perbuatan dan ucapannya bersih dari pengaruh nafsu
2. Murid, yakni pengikut tarekat yang menghendaki pengetahuan dan petunjuk mengenai segala amal ibadah dari mursyid Sebagai murid mereka menyerahkan diri dan tunduk dengan sepenuh-penuhnya kepada gurunya, sehingga guru menjadi penentu "merah-putihnya" nasib mereka {Penyerahan diri serta kepasrahan dimaksud bagaikan sosok mayat yang berada ditangan orang-orang yang memandikannya
3. Latihan spiritual / upacara ritual Masing-masing tarekat memiliki bentuk latihan spiritual / ritual keagamaan tersendiri Namun secara umum diantaranya seperti : (1) berkhalwat atau I'tikaf di zawiyah selama beberapa hari atas petunjuk mursyid, (2) berzikir dengan menyebut nama Allah atau sifat-sifatnya secara zahir dan bathin, dan (3) tawajjuh atau zikir berjamaah yang disertai perenungan bathin Kesemuanya ini dilaksanakan dengan tata cara yang telah dirumuskan dan diajarkan masing-masing mursyid

C. Sejarah Munculnya Tarekat Dan Perkembangannya Didunia Islam
Pada awalnya tarekat hanya berarti jalan menuju Tuhan yang ditempuh seorang sufi secara individual Tetapi selanjutnya para ahli sufi mengajarkan tarekat yang ia tempuh itu kepada para muridnya, baik secara personal maupun organisatoral jadilah tarekat dalam hal ini bermakna jalan menuju Tuhan dibawah bimbingan seorang guru sufi Disamping itu munculnya tarekat sebagai sebuah institusi yang melakukan pembinaan batin masyarakat umum untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah tidak terlepas daripada keberadaan tasawwuf serta kecenderungan kondisi kehidupan umat
Dalam situasi seperti itu wajarlah kalau umat Islam mencari kompensasi, yakni berpegang pada doktrin yang dapat menentramkan jiwanya Tarekat dalam hal ini merupakan warisan kultural yang diwariskan oleh ulama Islam sebelumnya yang dianggap telah banyak berhasil dalam segi menentramkan psikis seseorang yang berbasiskan agama Islam Oleh sebab itu "pelarian" terhadap tarekat merupakan hal yang logis
Keberadaan tasawwuf sebagai faktor pendukung terbentuknya tarekat berkaitan dengan munculnya orang-orang sufi yang menjadi mursyid pada masa embrio pertumbuhannya Karena penyebaran ajaran tasawwuf (ketarekatan) secara massal dimulai dengan adanya mursyid-mursyid yang berhasil menyusun teknik-teknik zikir dan ritual lainnya untuk membimbing murid-muridnya, sedangkan lahirnya orang-orang suci tidak terlepas dari pengamalan dan pengalaman ketasawwufan
Sesuai dengan realita, orang-orang suci atau mursyid memiliki kelebihan-kelebihan yang bersifat supernatural dan menguasai ilmu ghaib Sementara masyarakat awam pada umumnya cukup menaruh minat dan mengagumi cerita-cerita tentang orang-orang suci dan ilmu-ilmu ghaib yang mereka kuasai Hal ini terlebih-lebih para mursyid mempropagandakan bahwa ketasawwufan / ketarekatan dapat mengantarkan manusia kepada kedalaman spiritual, kemantapan keyakinan agama dan keindahan akhlak, yang akhirnya meimbulkan rasa kebahagiaan hidup Pada saat yang bersamaan masyarakat umum sedang dihadapkan kepada problema sosial politik dan sangat mendambakan kedamaian dan kebahagiaan
Tanggal kelahiran tarekat tersebut sangat sulit dilacak dalam sejarah perkembangannya Namun dapat diprediksikan bahwa tarekat sudah muncul dalam perkembangan tasawwuf pada abad ke-3 dan 4 Hijriah, misalnya adalah tarekat al-Saqatiyyah, al-Tayfuriyyah, al-Hanraziyyah, al-Nuriyyah dan al-Malamatiyyah Adapun aliran seperti Qadariyah, Suhrawardiyah, dan Rifa'iyyah baru diketahui kelahirannya pada abad ke-3 Hijriah Semisal proses kelahiran tarekat pada awalnya, tarekat-tarekat yang disebutkan terakhir ini adalah juga terbentuk oleh kelompok murid-murid sufi besar
Pada masa pertengahan abad ke-3 Hijriyah, ajaran-ajaran tasawwuf sudah mulai diajarkan secara umum di Baghdad dan menarik minat yang luar biasa dari orang-orang awam Sebagaimana dikutip oleh DR Dimuh dari kitab al-Tashawwuf fi asy-Syi'ri al- Arabi, karya 'Abd al-Hakim Hassan dan buku Readings from the Myistics of Islam tulisan Margaret Smith, bahwa Junaid al-Baghdadi (w 297 H/910 M) merupakan salah seorang tokoh yang menetapkan kaedah-kaedah paham tasawwuf dan menyusun aturan-aturan bagi murid-muridnya yang berjumlah lebih kurang sepuluh orang
Walaupun pada saat itu sudah terdapat mursyid seperti yang diperankan al-Junaid al-Baghadi, murid serta kaedah dan peraturan yang ditetapkannya sangat sulit untuk mengatakan bahwa tarekat telah muncul pada abad ke-3 H/9 M karena belum pernah dijumpai penyebutan sebuah tarekat dengan nama tarekat Junaid sedangkan salahsatu ciri dari pada tarekat berupa nama yang diambil dari nama pendirinya, seperti tarekat Qadiriyah yang dibina oleh Syaikh Abd Qadir al-Jailani Dengan demikian keberadaan Junaid cenderung hanya sebagai perintis atau peletak sistem ketarekatan
Dengan lagkah-langkah yang dilakukan Junaid, para pemuka tasawwuf lainnya dan murid-murid mereka, maka bermunculanlah sejumlah tarekat, terutama sekali didaerah Mesopotamia (Irak) yang bertalian dengan Junaid al-Baghdadi dan daerah Khurasan (Iran) yang bertalian dengan Abu Yazid al-Bustami
Dalam wilayah Mesopotamia terdapat beberapa tarekat yang muncul, diantaranya yang terpenting dan sangat berpengaruh terhadap perkembangan tarekat pada masaberikutnya,ialah:
1. Suhrawrdiyah, didirikan oleh Shihab al-Din Abu Hafs al-Umar (539-632 H / 1145-1234 M) Ia mendapat didikan tarekat dari pamnnya Abu an-Najib as-Suhrawardi (w 563 H / 1168 M) yang merupakan murid dari Ahmad al-Ghazali (w 520 H / 1126 M) Atas prakarsa murid-muridnya, tarekat ini berkembang ke berbagai wilayah Islam dan memiliki cabang-cabang yang cukup banyak
2. Rifa'iyyah, dibentuk oleh Ahmad Ibn 'Ali al-Rifa'i (1106-1182 M) Tarekat ini berkembang terutama sekali ke daerah Mesir dan Syiria dengan cabag-cabang seperti Badawiyya, Dasuqiyya, Shadiliyya dan Alwaniyya
3. Qadiriyya, dinisbahkan kepada Muhyiddin Abdul Qadir Ibn Abdullah al-Jailani (471-561 H / 1078-1166 M) Sebenarnya ia berperan sebagai pemuka Mazhab Hanbali atau seorang ulama, bukan seorang sufi Hanya keluarga dan murid-muridnya yang memandangnya sebagai mursyid tarekat (sufi) Kemudian atas prakarsa murid-muridnya ajaran-ajarannya meluas ke berbagai daerah Islam seperti Yaman, Syiria, dan Mesir
Selanjutnya adapun pertumbuhan dan perkembangan tarekat di Khurasan (Iran) dimulai dari tokoh seorang tasawwuf bernama Abu Ya'kub Yusuf al-Hamdani al-Buzanjirdi (441-535 H / 1049-1140 M) Diantara murid-muridnya terdapat Abd al-Khalid al-Ghuzdawani (w1220 M) yang menjadi pendiri tarekat Khawajaganiyya, serta Ahmad Ibn Ibtahim Ali al-Yasavi (w 1169 M) yang membentuk tarekat Yasaviyya Tarekat Khawajaganiyya berkembang di Turkistan dengan nama Naqsabandiyah yang didirikan oleh Muhammad Baha al-Din an-Naqsabandiyah al-Awisi (w 1389 M), sedangkan tarekat Yasaviyya berkembang ke berbagai daerah Islam, terutama sekali kedaerah Turki dengan nama Bektasiyya yang dibentuk Muhammad Ata' Ibn Ibrahim Hajji Bektash (w 1335 M)
Selain kedua tarekat tersebut, dari rumpun Khurasan ini masih dijumpai beberapa nama, terutama sekali tarekat Khalwatiyya yang dibentuk Umar Khalwati (w 1397 M) Tarekat ini berkembang luas di Turki, Syiria, Mesir dan Yaman Di Mesir, tarekat Khalwatiyya yang dibangun Ibrahim Gulsheini (w 1534 M) menimbulkan beberapa cabang, diantaranya tarekat Sammaniyya yang didirikan oleh Muhammad ibn Abd al-al-Karim Sammani (1718-1775 M)
Sebenarnya masih banyak lagi perkumpulan dan nama-nama tarekat yang tumbuh dan berkembang didunia Islam Karena murid-murid dari masing-masing tarekat yang telah mencapai kematangan pengamalan dan pengalaman akan membentuk perkumpulan baru dan bahkan dengan nama-nama yang baru pula, sehingga menimbulkan sejumlah besar cabang-cabang dan ranting-ranting
Diantara tarekat yang terbesar hingga saat ini adalah tarekat Naqsyabandiyah tarekat ini didirikan oleh Muhammad Ibn Muhammad Baha' al-Din al-Naqsyabandiyyah Syaikh ini dilahirkan disuatu desa dekat Bukhara, pada tahun 1317 M Tarekat ini memiliki pengikut di Turki, Kurdistan, Afganistan, Syria, Dagistan, Asia Tengah, Pakistan, China dan Asia tenggara seperti halnya Thailand, Filiphina, Malaysia dan Indonesia 
Dari sekian banyak tarekat yang telah disebutkan diatas terdapat sebahagian diantaranya masuk dan berkembang di Indonesia, yakni Qadiriyyah, Rifa'iyyah, Naqsabandiyyah, Khalwatiyyah dan Sammaniyyah Tarekat-tarekat ini masuk ke Indonesia diperhitungkan sejak abad ke-8 H yang dibawa oleh para saudagar dari Parsi, Tanah Arab, India serta ulama-ulama Indonesia yang menunaikan ibadah haji dan sempat menetap di Mekkah seperti Abdul Rauf Singkel

D. Pengaruh Tarekat di Dunia Islam
Melihat pertumbuhan dan perkembangan tarekat sebagaimana uraian diatas, dapat diambil suatu pemahaman bahwa keberadaannya memberikan dampak positif terhadap penyebaran agama Islam Merupakan fakta nyata yang sulit dipungkiri bahwa masuknya Islam ke India, Indonesia dan Afrika tidak terlepas dari usaha-usaha yang dilakukan oleh para pengikut dan penganjur tarekat Hal ini disebabkan disamping ajaran-ajaran yang mereka sampaikan menjanjikan kedamaian dan kebahagiaan hidup, juga didukung oleh kemampuan mereka dalam menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi masyarakat yang mereka hadapi
Kemudian satu hal yang tidak kalah pentingnya, bahwa tarekat telah turut serta berjuang dalam melawan dan mengusir penjajah Hal ini dapat dilihat dalam sejarah dibeberapa negara Islam seperti Sudan, Maroko dan Indonesia Mereka berjuang dengan penuh semangat jihad dan tanpa pamrih bersama dengan masyarakat
Selain dampak positif tersebut diatas, keberadaan tarekat kiranya juga mendatangkan dampak negatif bagi keberadaan umat, terutama sekali menyangkut kemurnian aqidah dan perkembangan pemikiran Seperti para Mursyid memiliki suatu kemampuan bathin atau kekuatan yang bersifat supernatural Dengan hal ini banyak masyarakat mengkeramatkan mereka dan menjadikannya sebagai wasilah dalam bermohon kepada Tuhan Hal ini tidak saja ketika mereka masih hidup, melainkan juga setelah mereka meninggal dunia Kuburan-kuburan mereka dijadikan tempat keramat dan selalu diziarahi dan dipuja-puja untuk mendapatkan restu serta keberuntungan
Bersamaan dengan itu pula, sebagaimana diketahui bahwa didalam tarekat terdapat sistim yang menuntut kepatuhan yang demikian kuat para murid atau pengikut tarekat terhadap mursyid Mereka dijadikan sebagai sumber petunjuk dan segala yang mereka sampaikan sebagai suatu kebenaran atau tidak dipertanyakan lagi
Dari sisi lain Muhammad Abduh, sebagaimana dikutip oleh Zakaria Hasyim Zakaria, memberikan gambaran bahwa tarekat-tarekat itu sebagai kelompok campuran yang dipersatukan oleh suatu kepentingan: melarikan diri dari dunia, senang bermalas-malasan dan menjauhkan diri dari kerja yang bermanfaat bagi kepentingan umat manusia Dengan demikian tarekat-tarekat ini juga mendorong suburnya semangat jabariah Pengaruh negatif yang ditimbulkan tarekat tersebut, walaupun pada konteks kekinian dirasa sudah berkurang tetapi masih cukup dirasakan Hal ini terutama berupa pengkeramatan terhadap mursyid dan kuburannya
Gerakan tarekat ini telah mengalami pasang surut mulai pada akhir abad ke-20 Hal ini seiring dengan munculnya gerakan pembaharuan dalam dunia Islam yang dimotori oleh Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha Hingga saat ini, gerakan-gerakan tarekat didunia Islam masih tetap eksis, kendati tidak sesemarak pada era keemasannya

E. E p i l o g u e
Dalam dunia sufi, tarekat dipahami sebagai sebuah metode psikologi moral untuk membimbing seseorang mengenal Tuhan Media olah spiritual ini lahir sebagai reaksi terhadap kondisi sosial politik yang tidak stabil sekitar abad ke-3 H Hal ini ditandai dengan perang salib dibelahan barat dan serangan tentara Mongol di belahan Timur Akibatnya, timbul usaha mencari kompensasi dikalangan umat Islam, yakni melalui tarekat dengan berpegang kepada doktrin yang dapat menentramkan jiwa Era kejayaannya adalah sekitar abad ke-7 hingga awal abad ke-20 Saat ini gerakan tarekat tetap eksis, walau tidak sesemarak era kejayaannya
Sebagai sebuah institusi yang mengadakan pembinaan rohaniah umat untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah, maka keberadaan tarekat patut didukung dan dikembangkan Dengan hal ini diharapkan umat memiliki iman yang kokoh dan semangat keberagamaan yang tinggi, sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan zaman Namun melihat berbagai dampak negatif yang ditimbulkannya, maka pola atau sistem lama perlu ada pembaharuan, terutama sekali dalam rangka menghindari tradisi pengkeramatan terhadap para mursyid dan kuburan-kuburan mereka yang dipandang dapat "mengotori" kemurnian aqidah umat Wallahu A’lam.

Daftar Pustaka
Simuh, Tasawwuf Dan Perkembangannya Dalam Islam., ( Jakarta, Raja Grafindo, 1996 )
Louis Ma'luf, Al-Munjid, (Beirut, Dar Al-Masyriq, 1973)
AW Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab - Indonesia, (Ygyakarta, Pustaka Progressif, 1984)
Nurcholis Majid, Islam Agama Peradaban; Membangun Makna Dan Relevansi Dalam Sejarah, Jakarta, Paramadina, 1995)
Abu Al-Wafa' Al-Ghanimy Al-Taftazani, Madkhal Ila Al-Tashawwuf Al-Islamiy, (Mesir, Dar Al-Tsaqafah, 1973)
Mirce Aliade, The Encyclopedia Of Islam, (New York, Mac Millan Publishing, 1987)
J Spencer Trimingham, The Sufi Orders Of Islam, (London, Oxford University Press, 1973) Harun Nasution, Tarekat Qadariyyah Naqsyabandiyah, (Tasik Malaya, Iailm, 1990)
Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta, Bulan Bintang, 1986), Hal 89
Departemen Agama Ri, Ensiklopedi Islam, (Jakarta, Dirjen Binbaga Islam, 1992/1993)
Soekarna Karya Dkk, Ensiklopedi Mini Sejarah Dan Kebudayaan Islam, (Jakarta, Logos, 1996)
Aboe Bakar Atjeh, Pengantar Sejarah Sufi Dan Tasawwuf, (Semarang, Ramadhani, 1984)
Fazlur Rahman, Islam, Terj Senoaji Saleh, (Jakarta, Bumi Aksara, 1992)
Ahmad Tafsir, Tarekat Dan Hubungannya Dengan Tasawwuf, Dalam Harun Nasution, Tarekat Qadariyyah Naqsyabandiyyah, (Tasik Malaya, Tasik Malaya, Iailm, 1990)
K Ali, A Study Of Islamic History, (India, Idarah Adabi, 1980), Hal 273-280
Harun Nasution, Akal Dan Wahyu Dalam Islam, (Jakarta, Ui Press, 1982), Hal 35
Mushtafa Hilmi, Al-Hayat Al-Ruh Fi Al-Islam, (Kairo, Mesir, Daar Al-Ihya', 1945)
Taiftazani, Sufi Dari Zaman Ke Zaman, (Bandung, Pustaka, 1974)
Iain Sumatera Utara, Pengantar Ilmu Tasawwuf, (Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam, Sumatera Utara, 1981-1982)
Martin Van Bruinessen, The Tarekat Naqsyabandiyyah In Indonesia, Alih Bahasa Hamid Algar, Tarekat Naqsyabandiyyah Di Indonesia, (Bandung, Mizan, 1996)
Annemarie Schimmel, Mystical Dimension Of Islam, Terj Sapardi Djoko Damono, (Jakarta, Pustaka Firdaus, 1986)
Zakaria Hasyim Zakaria, Araa'a Falsafah Wa 'Abaaqarah Al-Gharbi Fi Islam, Terj Salim Basyarakhil, (Jakarta: Gema Insani Press, 1991)

TASAWWUF ISLAM

(Analisis atas Asal Usul, Pengertian dan Tujuannya)
Oleh: Ismail Fahmi Arrauf

Muqaddimah
Pembicaraan tentang tasawuf Islam dalam masyarakat modern yang tengah memasuki suasana globalisasi dan berbagai kemajuan bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi, terasa kurang relevan Ia seperti terasing ditengah-tengah lalu lalangnya manusia yang sedang dikejar waktu untuk mencari nilai tambah pada hari-harinya yang seluruhnya berorientasi kepada nilai ekonomi Kajian terhadap tasawuf tarasa seperti menampilkan barang antik yang mempertahankan seseorang untuk tidak terlepas dari sikap fatalistik dan asketis
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan munculnya kenyataan seperti itu, antara lain, berpangkal pada kecenderungan memahami tasawuf dalam ruang lingkup gejala semantik un-sich tanpa melihat ia sebagai sebuah hasil produk kebudayaan yang terkait dengan sejarah perkembangan keagamaan masyarakat Sebab, pemahaman yang demikian ini menyebabkan tasawuf tampak sebagai refleksi dari orang-orang tua yang selalu bersimpuh di hadapan sang mursyid dengan pakaian yang sangat sederhana dan selalu pasrah dalam hidupnya sebagai manifestasi dari mencintai akhirat dan membenci dunia fana'
Faktor lain adalah, disebabkan oleh posisi posisi tasawuf ditengah-tengah ilmu keislaman terasa tidak populer seperti ilmu-ilmu lain yang nota bene menjadi kebutuhan yang mendesak seperti fiqh, teologi dan aqidah Di sini tasawuf tak lebih sebagai suplemen dari keberagamaan dalam Islam meskipun oleh pengikutnya dipandang sebagai unsur essensial yang dapat menjadikan berkualitasnya amalan keberagamaan seseorang
Karena suasana seperti di atas inilah menyebabkan orang seperti Iqbal pernah mengkritik tasawuf dengan menyatakan bahwa tasawuf sebenarnya memiliki nilai-nilai yang indah serta mampu mengarahkan evolusi pengalaman keagamaan seseorang dalam Islam Hanya saja, para tokohnya di kemudian hari tidak mampu untuk menerima ilham segar apapun dari pikiran dan pengalaman modern Mereka bersikeras untuk mempertahankan dan mengabadikan cara-cara yang telah diciptakan oleh suatu generasi yang pandangannya berbeda sama sekali dengan kebudayan modern
Terlepas dari keinginan Iqbal yang nampaknya menginginkan tasawuf untuk dimoderasikan, maka jalan yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan restrukturisasi asal usul tasawuf, defenisi ulang tasawwuf dan pelurusan tujuan tasawuf sebagaimana dikehendaki oleh para Zuhhad Maka tulisan berikut bermaksud mendeskipsikan secara singkat latar belakang historis munculnya gerakan moral sufisme Islam, pengertian tasawuf Islam dikalangan para tokoh dan tujuan yang hendak dicapai oleh para sufi, tentunya variasi aktualisasi di antara tokoh akibat perbedaan ruang dan waktu serta tuntutannya

Tasawuf
Arti tasawuf secara etimologi diperselisihkan oleh para ahli, karena perbedaan mereka dalam memandang asal usul kata tersebut

Asal usul Kata Tasawuf
Asal usul kata tasawuf menurut pendapat para ahli antara lain sebagai berikut: (1) tasawuf berasal dari kata šaff yang artinya barisan dalam shalat berjamah Alasannya seorang sufi mempunyai iman yang kuat, jiwa yang bersih dan selalu memilih saf terdepan dalam shalat berjemaah Di samping alasan itu mereka juga memandang bahwa seorang sufi akan berada di baris pertama di depan Allah swt (2) Tasawuf berasal dari kata šaufanah, yaitu sejenis buah-buahan kecil berbulu yang banyak tumbuh di gurun pasir Arab saudi Pengambilan kata-kata ini karena melihat orang-orang sufi banyak memakai pakaian berbulu dan mereka hidup dalam kegersangan fisik, tetapi batinnya subur (3) Tasawuf berasal kata šuffah yang artinya pelana yang dipergunakan oleh para sahabat Nabi saw yang miskin untuk bantal tidur di atas bangku batu di samping masjid Nabawi di Madinah Versi lain dikatakan bahwa šuffah artinya suatu kamar di samping masjid Nabawi yang disedikan untuk para sahabat Nabi saw dari golongan muhajirin yang miskin Penghuni šuffah ini disebut ahl šuffah  Mereka mempunyai sifat-sifat teguh dalam pendirian, taqwa, wara', zuhud dan tekun beribadah Adapun pengambilan kata suffah karena kemiripan tabiat mereka dengan sifat-sifat ahl šuffah (4) Tasawuf (Sufi) merujuk kepada kata šafwah yang berarti sesuatu yang terpilih atau terbaik Dikatakan demikian karena seorang sufi biasa memandang diri mereka sebagai orang pilihan atau orang terbaik (5) tasawuf merujuk pada kata šafa atau šafw yang artinya bersih atau suci Maksudnya kehidupan seorang sufi lebih banyak diarahkan pada penyucian batin untuk mendekatkan diri kepada Allah sebab Allah tidak dapat didekati kecuali oleh orang-orang yang suci (6) Tasawuf berasal dari bahasa Yunani, yaitu Theosophi (Theo = Tuhan; Sophos = hikmat) yang berarti hikmat ketuhanan Mereka merujuk kepada bahasa Yunani karena ajaran tasawuf banyak membicarakan masalah Ketuhanan (7) Tasawuf berasal dari kata suf yang artinya wol atau kain bulu kasar Disebut demikian karena orang-orang sufi banyak yang gemar memakai pakaian yang terbuat dari bulu binatang sebagai simbol kemiskinan dan kesederhanaan, berlawanan dengan pakaian sutra yang biasa dipakai oleh orang-orang kaya Abu Nasr as-Sarraj at-Tusi, tokoh fundamentalis tasawuf mengatakan bahwa kebiasaan memakai kain wol kasar adalah kebiasaan para Nabi dan orang-orang saleh sekaligus sebagai lambang kesederhanaan dan kemiskinan

Defenisi Tasawuf
Ada beberapa defenisi yang diberikan oleh beberapa tokoh seperti Abu al-Husain
an-Nuri yang menyebutkan bahwa tasawuf bukanlah gerak lahiri (rasm) atau pengetahuan ('ilm) tetapi ia adalah kebajikan (akhlaq) Kesadaran sufisme juga berangkat dari pemikiran bahwa secara fitri manusia tidak dapat menguaai dirinya sendiri karena dibalik yang ada terdapat Realitas Mutlak Defenisi Ma'ruf al-Kharkhi (w 200 H) menyatakan bahwa tasawuf adalah mecari hakikat dan memutuskan apa yang ada pada tangan makhluk Muhammad al-Jurayry mengatakan tasawuf berarti menyandang akhlaq yang mulia dan meninggalkan setiap akhlaq yang tercela Muhammad Ali al-Qassab menyatakan bahwa tasawuf terdiri dari akhlak yang mulia yang diperlihatkan seseorang yang berakhlaq mulia ditengah-tengah kumpulan orang-orang yang mulia al-Kattani juga berujar tasawuf adalah akhlak yang baik, barang siapa yang melebihi akhlak yang baik berarti ia melebihimu dalam hal tasawuf
Dari beberapa defenisi di atas, Zakaria al-Ansari penulis tasawuf (825-925 H) mencoba meringkaskannya dengan "tasawuf mengajarkan cara untuk menyucikan diri, meningkatkan akhlak dan membangun kehidupan jasmani dan rohani untuk mencapai kebahagiaan abadi Unsur utama tasawuf adalah penyucian diri dan tujuan akhirnya adalah kebahagiaan dan keselamatan abadi"
Defenisi yang dikemukakan oleh al-Ansari di atas dianggap oleh sebagian peneliti bertentangan dengan prinsip ajaran tasawuf itu sendiri Sebab bagi sebagian sufi, tujuan tasawuf itu bukanlah untuk mendapatkan balas jasa berupa kebahagiaan abadi tetapi pengabdian itu emata-mata ikhlas karena Allah swt Yang mereka harapkan hanya ingin bertemu dengan Allah yang selalu dirindukan, seperti terlihat dari berbagai pernyataan Rabi'ah al-Adawiyah.
Adapun defenisi tasawuf menurut para peneliti seperti Ahmad Amin, menyebutkan bahwa tasawuf adalah bertekun dalam beribadah, berhubungan langsung dengan Allah, menjauhkan diri dari kemewahan duniawi, berlaku zuhud terhadap yang diburu oleh orang banyak (seperti kelezatan dan harta benda), dan menghindarkan diri dari makhluk di dalam khalwat (pengasingan diri) untuk beribadah
Menurut himat penulis, rumusan Ahmad Amin ini bertentangan dengan pendapat al-Junaid Bagi al-Junaid, khalwat itu tidaklah penting dalam tasawuf, justeru yang lebih ditekan adalah agar sufi dapat memberikan nasihat kepada umatnya Oleh karena itu Annemarie Schimmel, sejarawan dan dosen tasawuf pada Harvard university mengatakan bahwa sulit mendefenisikan tasawuf itu secara lengkap karena kita hanya dapat meyentuh salahsatu sudutnya saja Bagi penulis sendiri lebih cenderung untuk mengatakan bahwa defenisi-defenisi tersebut hanya dapat menjadi petunjuk awal untuk menyelaminya lebih jauh

Background Historis
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Nabi saw selama menjalankan misi prophetisnya senantiasa menanamkan suatu tatanan kehidupan yang civilized, humanis, sosialis, demokratis, egalitarian, toleran dan equilibrium antara kepentingan-material duniawi dan spiritual-ukhrawi Nabi sendiri langsung memberi contoh aktif memimpin negara dan umat Islam Berjihad dan aktif membangun menyatukan umat yang baru dibentuknya di pusat kota Madinah yang terdiri dari berbagai suku bangsa baik dari golongan Muhajirin ataupun Anshar Hal ini kemudian diteruskan oleh para penggantinya, yakni para Khalifah ar-Rasyidin Mereka memandang jabatan dan kedudukan kenegaraan sebagai medan yang paling mulia untuk beribadah dan beramal saleh Dalam mengabdi bagi kebesaran dan kejayaan agama dan umat manusia (Islam) bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan ataupun keluarga Mereka meletakkan kepentingan kesucian agama dan umat nausia di atas segalanya Pada masa itu boleh dikatakan terjadi perkembangan yang serentak dan saling menjiwai antara keyakinan agama (Iman), perbuatan lahiriyah (Islam) dan perasaan moral spiritual
Namun setelah pusat pemerintahan Islam berpindah dari Madinah ke Damaskus, terjadilah perkembangan dan pergeseran sikap, orientasi dan style pola hidup Muslim Konflik-konfik kepentingan semakin kentara, ini ditunjukkan oleh berbagai keompok yang lebih berbasiskan pada kesukuan, fanatisme atas golongan tertentu Konflik-konflik tersebut telah lahir paling tidak sejak pemerintahan Ali bin Abi Thalib, yang mempunyai dampak besar terhadap kehidupan religius, sosial, politik kaum muslimin Dalam kalangan kaum muslimin sekali lagi timbul fanatisme parokial Paling tidak ada tiga pola pikir tradisi lama yang mulai mendominasi pemahaman keagamaan yang menimbulkan perpecahan Pertama, ambisi kesukuan Mu'awiyah yang meneruskan cita-cita ayahnya Abu sufyan untuk merebut kekuasaan dan mendirikan sistem pemerintahan kerajaan bagi dinasti Umayyah Cita-cita ini dapat mereka capai dengan mengorganisir pemberontakan terhadap kekuasaan khalifah Ali bin Abi Talib Pemberontakan ini berhasil memancing perpecahan dua sayap ekstrem dari pendukung khalifah Ali menjadi dua sekte yang saling bermusuhan, yaitu sekte Khawarij dan Syi'ah Syiah mengembangkan pola tradisi lama suku-suku Arab selatan yang telah sejak lama mendewa-dewakan pemimpin dan raja-raja mereka Pola pikir yang kedua ini kemudian dilegalisir dengan dalil agama yang menjelmakan konsep keemimpinan imamah Ali mereka anggap sebagai orang yang satu-satunya yang ditunjuk langsung oleh Nabi sebagai pengganti untuk memimpin umat Islam baik dalam urusan soial politik ataupun keagamaan, Hal ini kemudian menjadi hak istimewa bagi keturunan silsilah Ali bin Abi Thalib Jadi syi'ah mengembangkan konsep Ismatul A'immah (Imam-imam yang ma'sum) sebagai pengganti kepemimpinan asli Islam atas dasar rasional Membudayalah kemudian ajaran mendewakan-dewakan imam yang mendapat dukungan dari tradisi feodalisme Persi kuno Ketiga, sekte Khawarij yang mengembangkan pola pikir tradisional suku-suku Baduwi di Arab bagian tengah, terbiasa dengan berfikir sederhana, keras dan fanatik serta cenderung memutlakkan pendapat mereka Pemahaman keagamaannya parsial-tekstual dan radikal sehingga tidak segan-segan menilai orang yang tidak sefaham sebagai kafir dan bahkan musyrik, oleh karenanya halal darahnya
Sementara itu Bani Umayyah menganut pola pikir politik-sentris, dengan sistem pemerintahan dinasti-isme Mereka mengubah sistem ajaran yang memandang jabatan kenegaraan sebagai media ibadah dan pengabdian agama menjadi sistem kerajaan turun temurun dan kerajaan sebagai kamukten bagi diri dan keluarga serta anak cucu mereka Oleh karena itu mereka tidak segan-segan berbuat zalim, membunuh dan memenjarakan siapa saja yang dianggap punya potensi menggoyangkan kekuasaannya
Muawiyah setelah berhasil merebut keuasaan dan membangun kerajaan di Damaskus, kemudian ia meniru gaya hidup kerajaan-kerajaan feodal ala Romawi Timur yang mengutamakan gebyar kelahiran dan kemewahan hidup duniawi Perubahan gaya yang dikembangakan oleh lapisan atas yang berpusat di istana Bani Umayyah yang mengutamakan gebyar kesenangan dan kemewahan hidup duniawi ini ternyata besar pengaruhnya dan berakibat pada pergeseran gaya hidup kaum muslimin pada umumnya Mereka kemudian mengkiblat cara hidup istana dan ikut-ikutan mengejar kemewahan duniawi Untuk memperebutkan kekayaan dan kesenangan hidup itu mereka tidak segan-segan berbuat korup dan melahap barang-barang yang haram Pada akhirnya kehidupan sosial pada masa itu diliputi oleh perlombaan mencari kesenangan yang berlebihan sehigga melenakan masyarakat akan tata nilai agama sebagaimana yang dimisikan oleh Nabi saw
Tata kehidupan masyarakat baik menyangkut sosial, budaya dan ekonomi yang terus cenderung hedonistis, materialistis dan kapitalistik tersebut, yang didahului oleh pertikaian politik, akhirnya melahirkan sebuah reaksi Atas kericuhan politik, ada beberapa tokoh yang memilih sikap netral, tidak mau tahu akan urusan-urusan tersebut dan cenderung mengasingkan diri atau mengisolir diri agar tidak terpengaruh oleh pertikaian yang membawa pada dekadensi pribadi dan jiwanya Di antara mereka adalah Sa'ad bin Malik, Sa'ad bin Abi Waqqash, 'Abdullah bin Umar bin al-Khattab, Muhammad bin Maslamah al-Anshari dan Usamah bin Zaid bin Harisah Bahkan ada beberapa tokoh yang berani menentang otoritarian khalifah pada saat itu Demikian juga atas fenomena glamoritas dan kemewahan duniawi yang berlebihan itu timbul reaksi dari sebagian masyarakat untuk tidak ikut arus yang cenderung menyesatkan diri dari kehidupan yang sebenarnya Di antara tokoh itu adalah Abu Zar al-Ghifari dan Sa'id bin al-Musayyab yang sekaligus berani menentang kezaliman penguasa saat itu
Tokoh ulama besar yag sangat menyesalkan gaya hidup sebagian besar umat Islam yang memperebutkan harta dunia tanpa peduli batal dan halal adalah seorang tabi'in, Hasan al-Bashri (w 110 H) Sebagai reaksi yang menunjukkan kekecewaan Hasan al-Bashri terhadap perubahan gaya hidup kaum muslimin, ia mengatakan sebagai berikut:
Dulu kami menjumpai beberapa kaum di mana terhadap hal-hal yang dihalalkan kepada mereka saja lebih zuhud dari pada kamu terhadap hal-hal yang diharamkan kepadamu

Ucapan di atas jelas mengisyaratkan betapa jauh perubahan gaya hidup kaum muslimin setelah berkembangnya gaya hidup istana Bani Umayyah Dan wajar kalau kemudian muncul berbagai reaksi dari berbagai tokoh yang masih istiqamah dan konsisiten berpegang teguh kepada al-Quran dan sunnah Nabi saw yang seringkali mengecam pri kehidupan duniawi yang dapat melalaikan kehidupan yang ukhrawi sejati

Lahirnya Zuhhad, Nussak dan 'Ubbad:
Dari embrio Tasawuf sampai masa kelahirannya
Beberapa orang yang masih mempunyai komitmen kuat dan tinggi atas nilai-nilai moral keagamaan di tengah-tengah glamoritas duniawi sebagai di atas, mereka berupaya keras untuk melakukan amalan-amalan tertentu dalam rangka memperkuat fondasi kejiwaan, sehingga tetap suci jiwanya dan bertindak sesuai dengan kehendak yang Maha kuasa
Bagi mereka yang beraksi atas fenomena sosial yang serba glamor-materialistik, kompensasinya adalah menempa dirinya utuk tidak menginginkan harta dunia yang cenderung mencelakakan dan melupakan Mereka tidak "demam" kepada dunia, kemegahan, harta benda dan pangkat Dunia baginya dapat menghalangi hubungan antara "qalbu" manusia dengan Tuhannya Sikap dan pandangan seperti itu kemudian di kenal dengan dengan zuhud atau seringkali disebut dengan asketisme Dalam hal ini kaum muslimin yag saleh merasa bekewajiban untuk menyeru masyarakat kepada kehidupan asketis, sederhana, saleh dan tidak tenggelam dalam hawa nafsu Tokoh yang paling ternama pada generasi ini adalah Abu Zar al-Ghifari
Dengan demikian tersebar luasnya gerakan asketisme pada abad pertama hijriyah adalah akibat kericuhan dan konflik kepentingan untuk memenuhi hasrat kekuasaan baik jabatan ataupun urusan ekonomi Dalam hal ini Nicholson mengatakan:
Abad I Islam secara khusus ditandai dengan banyak faktor yang mendorong timbul dan tersebar luasnya asketisme Sebabnya adalah perang saudara yang berkepanjangan, ekstrimitas partai-partai politik ketika itu, peningkatan sikap tak acuh dan menganggap enteng persoalan moral, penderitaan kaum muslimin akibat kezaliman penguasa yang otoriter dan tiran yang memaksakan kehendak dan pandangan keagamaan mereka terhadap kaum muslimin yang tulus keislamannya dan penolakan para penguasa secara terang-terangan terhadap setiap gagasan yang berkaitan dengan pemerintahan keagamaan (Theokrasi) yang hendak ditegakkan kembali oleh kaum muslimin Semua itu adalah faktor-faktor yang menggerakkan orang menjauhi dunia dengan segala kelezatannya, dan pandangan mereka menjadi terarah pada kehidupan akhirat Dari situlah muncul gerakan asketisme secara kuat dan dengan berlalunya waktu ia pun semakin tersebar luas Dan gerakan inilah yang merupakan awal dari sufisme Islam

Dengan demikian keberadaan para zuhhad, nussak dan 'ubbad tersebut dapat dikatakan sebagai embrio dari sufisme Islam sebagaimana dikatakan Nicholson di atas Artinya tradisi zuhud merupakan awal dari munculnya sufisme dalam Islam dalam artian konvensional Para ahli pun banyak yang sepakat bahwa sufisme itu mulai dikenal sejak akhir abad ke-2 H Sebagaimana dikatakan al-Qusyayri bahwa "the sufis appeared in the ninth century of two hundred years after the death of the prophet Muhammad" Bahkan al-Mas'udi dalam kitabnya Murûj az-Zahab menyatakan bahwa sufisme muncul ketika pemerintahan Abbasiyah yaitu smasa khalifah al-Ma'mun Syaikh Fadhall Hery menyimpulkan sebagai berikut:
"it is superficial to say that sufism came into exstane two hundred years after the prophet Muhammad saw death, or that it originated from the poor and good, hearted simple people who were among the earliest followers of the prophet

Dengan demikian sah untuk dikatakan bahwa kelahiran sufisme Islam itu pada abad ke-2 H dimana kelahirannya didahului dengan membudayanya tradisi kesalehan baik pribadi-individual maupun komunal-sosial Tentu kemudian yang menjadi persoalan adalah faktor apa saja yang mempengaruhi kelahirannya dan faktor mana yang paling dominan, internkah atau extern
Para sarjana dalam hal ini berbeda pendapat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya sufisme dalam Islam Sebagaimana diterangkan di atas, zuhud sebagai embrio tasawuf, maka kelahiran atau faktornya tidak dapat dilepaskan dengan kelahiran zuhud itu sendiri Harun Nasution menyatakan ada lima faktor yang mempengaruhi kelahiran tasawuf cq zuhud: pertama dipengaruhi oleh cara hidup rahib-rahib kristen Kedua, dipengaruhi oleh Phytagoras yang mengharuskan meninggalkan kehidupan materi dalam rangka membersihkan roh Ajaran meninggalkan dunia dan pergi serta berkontemplasi inilah yang mempengaruhi timbulnya zuhud dan sufisme dalam Islam Ketiga, dipengaruhi oleh ajaran Plotinus yang menyatakan bahwa dalam rangka penyucian roh yang telah kotor sehingga dapat menyatu dengan Tuhan harus meninggalkan dunia Keempat, pengaruh Budha dengan paham nirwananya, bahwa untuk
mencapainya orang harus meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplasi Kelima, pengaruh ajaran Hindu yang juga mendorong manusia untuk meninggalkan dunia dan mendekatkan diri kepada Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dengan Brahman
Nicholson setelah mempelajari dengan seksama tasawuf, menyimpulkan bahwa untuk tasawuf generasi awal yang berupa kehidupan asketisme, tidak bisa tidak hasil gerakan Islam itu sendiri, bahkan hasil nyata ide tentang Allah Sementara itu, Ignaz Golziher berpendapat bahwa sufisme dapat dikategorikan menjadi dua Pertama, adalah pola zuhud di mana ini mendekati semangat Islam serta ahlu sunnah, sekalipun tampak pula terkena dampak asketisme Masehi Kedua, sufisme dalam pengertiannya yang luas maupun segala ucapannya yang bertalian dengan pengenalan terhadap Allah (ma'rifah), keadaan roh ini (hal), rasa (zauq) Menurutnya, yang kedua ini terkena dampak Neo-Platonisme dan ajaran-ajaran Budha atau Hindu Dan oleh karena itu, sufisme ini tampak sekali keterpengaruhannya oleh agama Masehi
Sementara itu sarjana insider, seperti Abul A'la 'Afifi menyatakan bahwa ada empat hal yang mempengaruhinya, yaitu Islam itu sendiri dengan Al Qur'an dan sunnahnya Kedua, revolusi Ruhaniyah kaum muslimin terhadap sistem sosial politik yang berlaku Ketiga, agama Masehi Keempat, gerakan eksoterime kalam dan fiqh Bagi penulis sendiri lebih cenderung untuk mengatakan bahwa faktor internal Islam itu sendiri yang paling mendominasi keterpengaruhan lahirnya sufisme Semangat Qur'ani yang tertanam dalam sanubari dan spirit sunnah Nabi menjadi menggelembung ke permukaan diketika secara internal dalam masyarakat Islam muncul ketidakberesan diberbagai lini kehidupan Dengan demikian fakrtor sosial politik dan budaya sebagai pemicu kelahiran dan kesadaran pentingnya terus beristiqamah dengan nilai-nilai Islam yang sebenarnya

Sufisme Islam: Sebuah gerakan moral
Dari deskripsi di atas, nampak bahwa sesungguhya pada tahap permulaan lahirnya sufisme lebih merupakan sebagai reaksi (Counter action) atas realitas praktis-kongkrit sosio-kultural politik yang menyimpang dari tata nilai agama yang telah digariskan Tuhan bergelimangnya harta benda sebagai hasil perkembangan (ekspantion) wilayah, memicu masyarakat untuk berlomba-lomba memperkaya diri, baik melalui lini perdagangan, kekuasaan dan yang lainnya Sangat boleh jadi bahwa masyarakat saat itu "kesemsem" kepada kemewahan dan kemegahan hidup Sudah menjadi umum, manakala seseorang berhasrat besar akan sesuatu (kebahagiaan instant-duniawi) ia akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya tanpa banyak mempertimbangkan dimensi-dimensi nilai yang abstrak-teologis-futuristik Kiranya dapat dikatakan materialistik telah menjangkiti kehidupan masyarakat yang belum lama ditinggalkan Nabinya "Budaya materialisme" yang cenderung mengabaikan nilai-nilai agama itu semula datang dari para penguasa yang motif keagamaannya sangat meragukan Untuk mendapatkan dan mewujudkan segala keinginannya, sudah barang tentu tidak ada yang dapat menghalanginya dan bila ada, mereka tidak segan-segan untuk membabat habis sebagaimana sifat politik pada umumnya
Maka tujuan para zahid atau sufi generasi awal itu secara internal untuk membersihkan jiwa mulai dari sifat-sifat mulai dalam rangka membangun moralitas yang senantiasa berketuhanan (teologis) sekaligus sosialis-humanis Moralitas itulah yang nampaknya mendorong adanya semacam gerakan protes Dari sinilah barangkali melahirkan beberapa defenisi yang diberikan oleh beberapa tokoh seperti telah diuraikan sebelumnya

Khâtimah
Dari beberapa pendapat yang telah ada mengenai asal usul munculnya tasawuf, penulis dapat simpul-deskripsikan bahwa faktor munculnya tasawuf dalam Islam sangat terkait dengan penyebab munculnya prilaku sikap kesalehan individu kaum muslimin dalam merespons masanya Dari beberapa faktor yang telah penulis uraikan terdahulu maka penulis lebih cenderung untuk mengatakan bahwa faktor utama yang membentuk prilaku zuhud dikalangan kaum muslimin adalah ajaran Islam sendiri yang tertuang dalam Al Qur'an dan SunnahNabi saw baik yang qauliyah maupun fi'liyah Namun juga tidak dapat disangkal bahwa ada pengaruh-pengaruh dari luar baik dari ajaran filsafat Plotinus-Pyhtagorian, ajaran Hindu, Budha dan cara kehidupan "rahib-rahib" yang hanîf, dan pengaruh itulah yang kiranya lebih menyemarakkan dan lebih berkembangnya terutama dari aspek teoritis-falsafinya
Sebagai penutup perlu disampaikan beberapa karekteristik sufisme yang pernah muncul pada masa-masa pertamanya Asketisme pada tahap ini berdasarkan ide menjauhi hal-hal duniawi, demi meraih pahala akhirat dan memelihara diri dari azab neraka Ide ini berakar dari ajaran-ajaran Al Qur'an dan as-Sunnah, dan terkena dampak berbagai kondisi sosio-politik yang berkembang dalam masyarakat ketika itu
Asketisme ini bersifat praktis, artinya para pendirinya tidak menaruh perhatian untuk menyusun prinsip-prinsip teoritis atas asketismenya itu Saran-saran praktisnya adalah hidup tenang, kesederhanaan secara penuh, makan dan minum ala kadarnya dan banyak beribadah kepada Allah serta bersih diri dari sifat-sifat yang tidak selayaknya Atau boleh dikatakan bahwa asketisme ini bertujuan untuk memperbaiki moralitas umat yang tengah mengalami dekadensi akibat pengaruh situasi sosio-kultural dan politik yang berkembang yang tidak civilized
Motivasi asketisme pada masa ini adalah rasa takut Yang di maksud adalah rasa takut yang muncul dari landasan amal keagamaan secara sungguh-sungguh Sementara pada perkembangannya ada Rabi'ah al-Adawiyah yang memotivasi cinta kepada Allah, yang membebaskan dari rasa takut atas azab-Nya Pada masa Rabi'ah ini juga terdapat kedalaman analisa terhadap persoalan-persoalan moral-spiritual Fase inilah yang dianggap oleh sebagian ahli sebagai fase pendahulu tasawuf Namun pada perkembangannya Al-Ghazali berpendapat bahwa kebahagiaan adalah tujuan akhir jalan para sufi, sebagai buah pengenal kepada Allah Dan karenanya penulis cenderung untuk mengatakan bahwa tahapan-tahapan tersebut lebih merupakan "gerakan moral"
Satu hal dari penulis yang perlu mendapat pertimbangan bahwa ajaran sufi harus dilihat sebagai ajaran yang komprehensif dan integral Artinya hidup zuhud atau bahkan "bersufi" bukanlah satu-satunya ajaran Islam yang mesti dipraktekkan sebagaimana orang yang anti dunia sama sekali Intinya justeru pada sikap bathin seorang muslim dalam menghadapi glamoritas material-duniawi secara proporsional Insya Allah

DAFTAR PUSTAKA

'Abd al-Qâdir bin Habîbillah as-Sindî, at-Tasawwuf fî Mîzâni al-Bahsi wa at-Tahqîq, Maktabah Ibn al-Qayyim, Madinah an-Nabawiyah, 1409 H/1990 M

Abi Bakar Muhammad bin Ishaq al-Kalâbâzi, at-Ta'arruf Li mazhab ahl at-Tasawwuf, Dâr Kutub al-'Ilmiyah, Beirut, 1993

Abu al-Wafa' al-Ghanimi al-Taftazani, Madkhal ila at-Tasawwuf al-Islâm, (Terj) Ahmad Rafi' Usman, Bandung, Pustaka, 1985

Chrill Glesse, Ensiklopedi Islam, Jakarta, Hasmar Baru Van Hoeve, 1993

Danusiri, Epistimologi Dalam Tasawuf Iqbal, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1996

HAMKA, Tasawuf; Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta, Penerbit Pustaka Panjimas, 1993

Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Jakarta, Bulan bintang, 1978

Ibn Khaldun, Muqaddimah, kairo; Mathba'ah al-Bahiyah, tth,

Ibrahim Basyuni, Nasy'at at-Tasawwuf al-Islâmi, al-Qâhirah: Dâr al-Ma'arif, tth,

Khan Sahib Khaja Khan, Studies in Tasawuwuf, Delhi, Idarah Adabiyat, 1978

Martin Lings, What is Sufism ?, Cambridge, The Islamic Texts Siciety, 1993

M Yaliduddin, Tasawuf Dalam Al Qur'an, Jakarta, Pustaka Firdaus, 1987

Muhammad Iqbal, Javid Nama, The Philgrimage Of Eternity (Lahore Institute of Islamic culture, 1961)

al-Qusyairi, Risâlah al-Qusairiyah, Ahsin Muhammad (Terj) Bandung, Pustaka, 1994

RA Nicholson, Fi al-Falsafah al-Islâmî wa at-Tarîkhuhu, Kairo, Lajnah at-Ta'lif wa al-Tarjamah wa an-Nashr, 1947

Simuh, Tasawuf Dan Perkembangannya Dalam Islam, Jakarta, Rajawali Press, cet I, 1996

Syaikh Fadhalla Hery, The Element Of Sufism, New York, Elemen, 1993

W Montgomery Watt, The Majesty That was Islam, Hartono Hadikusumo (Terj) Yogyakarta, Tiara wacana, cet I, 1990